Kamis, 23 Maret 2017

Jamaah Tablegh, Dakwah Tanpa Muatan Politik

Ribuan orang memadati Masjid Jami Kebon Jerk di bilangan Jakarta Barat pada Kamis Malam. Mereka datang dari seluruh Indonesia untuk berkumpul mendengarkan seorang ustad yang berceramah dalam bahasa Arab. Seorang penerjemah di depan mimbar menerjemahkan setiap ceramah ke dalam bahasa Indonesia. Semua jamaah duduk rapat mendengarkan dan sesekali mengucap kebesaran Alloh.

Ada pemandangan udik di ruang tengah, Seorang ustad dikelilingi oleh belasan pria yang menderita tuna rungu. Ustad tersebut mempergakan gerakan tangan dengan isyarat menerjemahkan kotbah ustad di depan yang dipahami para penderita yang kurang pendengaran. Mereka tampak manggut-manggut mengerti maksud isi ceramah. Di sisi lain ada petugas dapur yang melanai makanan jamaah. Jamaah yang datang boleh mengambil makan dan dimakan bersama dalam satu nampan. 

Itulah sekelumit aktifitas jamaah di Masjid Jami Kebon Jeruk, Jakarta. Mereka menyebut jamaah tersebut dengan jamaah Tablegh. disebut jamaah Tablegh karena dakwahnya adalah keliling dari masjid-masjid. Biasanya mereka punya agendu keluar atau yang disebut Qurut fi sabililah (berjuang di jalan Alloh) selama sebulan minimal 3 hari, atau 40 hari dalam satu tahun dan 4 vulan seumur hidup. Mereka berkumpul di masjid jamie untuk melakukan istimai setiap pekan. 

Secara internasional markas jamaah Tablegh di Nijamudin India, maka tak heran setiap keluar 4 bulan tujuan utama dakwah di IPB atasu singkatan India Pakistan Bangladeh. Karena disanalah mula dakwah jamaah tablegh. Dakwah Tablegh memang pertama kali diperkenalkan oleh Syech Maulana Ilyas, seorang Syech dari Yaman pada tahun 1924 setelah tumbangnya kekhalifahan Ootoman di Turki. kemudian dikembangkan oleh muridnya Syech Maulana Yusuf Al Khandawi yang menulis buku buku pegangan jamaah Tablegh seperti Adap-Adap, Riadus Salihin dan Fadilah2

Ciri khas yang  nampak dari jamaah ini adalah dari bajunya dengan celama cingkrang, baju khas India dan rata-rata berjenggot lebat. Mereka sering berjalan dalam rombongan yang dipinpin oleh seorang amir. Bahkan mereka tidak hanya bergerak di India tapi juga di seluruh dunia yang hampir lebih dari 200 negara. bahkan sampai ke suku eskimo di kutub utara, sebelum dikirim ke sana jamaah pun latihan hidup dibawah suhu 0 derajat kuta menahan dingin. 

Tujuan mereka bergerak adalah dakwah yakni mengajak manusia taat dan menyampaikan kalimat Laa ilaha illallah.   Meraka keluar dengan biaya sendiri-sendiri tanpa ada yang mensponsori. Merak dapat diterima oleh semua negara karena tidak ada muatan politik. Dalam tertib jamaah tablegh melarang pembicaraan berbau politik ketika sedang berdakwah. oleh karena itulah jamaah ini bisa diterma di sema negara termasuk Israel.

Satu yang menonjol dari jamaah tablegh adalah lintas paham artinya baik itu Nu, muhammadiyah, hisburt tahrir dan sebagainya bia bergabung, Mereka tidak menonjolkan paham tertentu dan menghindari khilafiyah. Sehingga jamaah ini menyatukan pernedaan yang ada dalam umat islam dengan kalimat tauhid. Program dan materi yang diberikan opun sederhana dan dapat diikuti semua lapisan masyarakat. 

Dengan jumlah karkun (orang yang pernah ikut jamaah ini) mencapai ratusan juta se dunia, jamaah ini cukup kuat. Saking besarnya , banyak pihak yang mencoba menyeretnya ke kelompok politik untuk tujuan tertentu. namun karena khittah jamaah ini tidak berpolitik maka jamah ini semakin membesar. Sebab jika masuk ke ranah politik kemungkinan jamaha ini akan ditinggalkan orang karena akan timbul pertentangan dan perbedaan pendapat.

Mereka meyakini bahwa, dengan berdakwah membantu agama Alloh, maka Alloh akan membantu mereka. Mereka berjuang untuk mendapatkan asbab hidayah Allah karena kalau masyarakatnya baik maka Alloh akan mengirim pemimpin yang baik. Maka program dasar mereka adalah memperbaiki umat, agar Alloh menurunkan hidayahnya. Dan suatu saat ketika seluruh dunia ini baik maka secara otomatis akan terbentuk Khilafa islamiyah.

Selama ini memang banyak stereotip miring kepada jamaah ini karena ulah beberapa oknum jamaah, seperti dianggap menelantarkan keluarga karena meninggalkan keluarga dan sebagainya dengan tanpa memberi nafkah misalnya. Sebenarnya sih itu ulah oknum tertentu yang kurang tertib. karena dalam tertibnya jamaah harus meninggalkan uang keluarga dan bila perlu dititipkan ke karkun untuk mengawasi anak-anak mereka. Jadi tidak benar jika dakwah ini menelantarkan keluarga.



 


Rabu, 22 Maret 2017

Kalau soal Makan Tirulah Selebritis

Dulu sewaktu kuliah, jika ada undangan pesta atau yang ada jamuan makan-makan, saya serng datang, Misi yang diemban satu "Perbaikan Gizi" . Rasanya tidak adil jika perut ini setiap hari diumpani tempe tahu dan nasi rames. Kalau bisa ngomong mungkin perut akan bilang "Itu lagi-itu lagi". Nah dengan adanya perbaikan gizi ini, meski hanya seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali kita sedikit memanjakan perut, kali ini semua  yang tersaji di meja kita cicipi (nggak enak mau ngomong diembat heheh) Ada daging, ayam, buah ,sayur, es krim, semua kita jejalkan ke perut melebihi kapasitas terpasang yang disediakan, Alhasil perut penuh. Dan besoknya mulai mules dan bergeser ke kamar kecil, untuk mengurangi beban lambung.

Sekarang diusia kepala 4, undangan pesta bukan sesuatu yang menarik atau perbaikan gisi, Alhamdulillah kalau lauk ayam tiap hari masih bisa kebeli. Yang jelas dengan kondisi usia yag bertambah cara berpikir juga sudah berubah, Makan sekedarnya saja, tak perlu mewah atau wah yang penting ada gisinya. Jika datang undangan pun ambil nasi tak lebih 5 sendok makan plus sayur dan lauk. Kalau dulu piring itu penuh dan lauk ambilnya bisa lebih dari satu. Minsetnya adalah silaturahmi bukan memanjakan perit lagi. Pertimbangannya jelas kesehatan, karena ketika usia mulai menua, berbagai penyakit mudah menyerang. 

Urusan makan ini sebenarnya sudah jelas dalilnya seperti yang disabdakan Kanjeng Nabi Muhammad Saw yakni makanlah pada saat lapar dan berhentilah sebelum kenyang, Nah kebanyakan kita belum lapar sudah makan contoh membiasakan diri makan pagi, siang dan malam. Padahal mungkin saat itu kita belum lapar, tapi tetap makan, Alasannya kita sudah kena sugesti kalau perut nggak diisi nanti kena mag, kembung dan sebagainya. Padahal di dalam perut dalam kondisi normal diciptakan banyak zat untuk menetralisir kondisi perut baik lapar maupun kenyang.

Urusan mkan kebanyakan kita juga kalau belum kenyang, belum berhenti, bahkan cenderung ngelunjak sudah kenyang mash terus diisi. Akibatnya perut kewalahan sehingga jika kebiasaan itu ters dilakukan akan mengakibatkan penimbunan lemak dan obesitas yang menyebaka anke penyakit akan bersarang dalam tubuh. Jadi anjuran Nabi Saw untuk berhenti sebelum kenyang itu sangat bermanfaat bagi kesehatan dan sebagai sikap adil kiat terhadap organ-organ yang ada di perut agar tidak bekerja belebihan atau ekstra time.  

Bicara makan, perut tidak akan protes apapun makanan yang kita masukkan, harusnya yang halal dan toyib. Makanan mahal Rp 100 ribu dengan Tempe Rp 1000 perak pun tetap akan diproses metabolsime yang sama dari mulut sampai ke pembuangan. Bahkan makanan yang mahal sering pembuangannya lebih bau atau maaf (kentutnya pun bau). jadi perut bersikap adil dan tak pernah mengeluh mendapat makanan yang murah. 

Namun kadang makanan ini dipolitisasi demi gengsi. Menjamu klien dengan makanan mahal demi mendapat proyek. Menjamu tamu dengan mewah demi mendapat investasi dan sebagainya. Kalau itu yang terjadi substansinya bukan makanan tali gengsi. Kalau sudah gengsi tempe yang biasa dibeli Rp 1000 bisa bernilai 10 kali lipat. Sementara organ kita tidak pernah memilah antara makanan sebagai kebuuhan atau sebagai nafsu atau sebagai gengsi saja. 

Makan ala selebritis 

Ingat selebritis yang ada di televisi, mereka menjaga benar makanan, sehingga berpengaruh besar terhadap tubuh mereka. Mereka bisa sajamakan makanan enak setiap hari, tapi tidak mereka lakukan demi menjaga tubuh yang bagus tidak berlemak dan sehat. Mereka rela melakukan diet ketat, tidak makan nasi berbulan-bulan, atau mengurangi kalori untuk mendapat berat badan yang ideal. 

Ketika kebanyakan orang pergi makan kapan ingin makan. Selebritis hanya makan kalau sudah diambang titik kelaparan. Sebab kalau ia membiarkan diri kelaparan , berati ia melanggar amanat Tuhan dalam merawat kesehatan. 

Kebanyakan orang makan sekenyang-kenyangnya, selebritis berhenti makan sebelum kenyang, sebab pada saat itulah batas optimalitas kesehatan dan kecerahan kreatifitas hidup. 

Kebanayakan oraang memilih makanan yang disukai , sedang selebritis menagmbil makanan yang menyehatkan, siap menelan apa saja meski pahit degan syarat untuk kesehatan badan.

Dalam konteks makan ini selebritis meniru apa yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Meski dalam banyak hal tidak semua diikuti. Misalnya dalam rumah Nabi saw tidak ada makanan yang tersedia lebih dari 3 hari. Nabi sering mengikat perutnya untuk menahan lapar karena tidak ada makanan di rumah.

saudaraku mari kita teladani Nabi Muhammad dengan mengurangi makanan dan memperbanyak amal saleh. melakukan puasa sunnah dan wajib untuk memberi keseimbangan dalam badan agar senantia bergairah dalam aktifias.

Dudun Hamdalah
Stan up Religi 23 Maret 2017
0813-10054310




Selasa, 21 Maret 2017

Merayakan berkurangnya Jatah Hidup ?

Kalau Ulang Tahun itu diartikan memotong kue, memberi bingkisan, mengundang teman dan menerma kado. Seingat saya, saya belum pernah merayakannya. Tidak ada tradisi seperti itu di keluarga saya, disamping mungkin ada pertimbangan ekonomi mengingat keluarga saya bukan orang mampu. Tapi pertimbangan tradisi lebih kuat, karena kalau sekadar beli kue untuk dimakan sendiri saya yakin orangtua saya masih sanggup.

Karena latar belakang itulah saya heran, atau merasa sayang ya, melihat orang menghambur-hamburkan uang banyak untuk sebuah seremoni yang sempit. Malah ada seorang Menteri yang masuk penjara karena merayakan HUT istrinya di sebuah hotel mewah dengan menghabiskan dana Rp 500 juta dan uang itu diambil dari kas negara. Ini super koclok (gila ) namanya. Masih mending Robinhood mengambil uang orang kaya untuk dibagikan ke orang miskin hehehe
Intinya sih kalau memang kondisi uang longgar dan mau membuat perayaan sebaiknya digunakan untuk kemanfaatan umat. Misalnya dirayakan bersama yatim piatu atau panti asuhan secara sederhana dan membagikan berkat agar mereka terhibur. Meski saya tidak tertarik dengan judulnya (HUT) tapi saya suka dengan substansinya atau kontennya. Misi ini lebih mulia dan berguna ketimbang memenuhi ambisi pribadi, gengsi dan syhwat duniawi.
Saya tidak merasa cocok dengan istilah ulang tahun, karena tahun tidak pernah berulang, tahun 2016 sudah berlalu dan takkan pernah kita jumpai lagi. Istilah yang tepat sebenarnya memperingat hari kelahiran atau Milad. Tapi sudah jaman disebut HUT maka lidah ini perlu waktu untuk menyesuaikan. Namun jika menggunakan istilah Milad kok nanti dibilang milik agama tertentu hehehe,  ya mudah2an ada kata bahasa Indonesia yang akan mewakili istilah Milad.
Secara nominal, Milad itu penambahan jumlah umur, jika kemarin 25 sekarang 26 tahun.. Tapi secara konten dan substansi waktu hidup kita di dunia berkurang, kalau jatahnya misalnya 60 tahun sekarang sudah 25 tahun berarti tinggal 35 tahun dan semakin hari jatah itu semakin sedikit. Jadi masih mau merayakan jatah hidup kita di dunia. hehehe


Selama hidup ini mungkin ada atau banyak cita-cita dan harapan yang tidak tercapai ketimbang terwujudkan. Itu membuktikan bahwa yang paling berkuasa di dunia Tuhan, dan Dialah sebaik-baiknya pembuat rencana. Karena Tuhan adalah pencipta yang tahu persis apa yang dibutuhkan mahluk ciptaanNya.

Maka setiap detik yang harus dilakukan manusia adalah bersyukur dan terus bersyukur dalam keadaan susah dan senang,. Sikap syukur dalam takdir dan sabara dalam proses harus dibarengi dengan rasa optimisme dan prasangka baik kepada Tuhan. Karena kehidupan ini milik Tuhan, harta, kedudukan atau anak semua itu amanah atau titipan yang wajib kita kembalikan. 
Maka di usia kepala 4 seperti saya, ambisi-ambisi kebendaaan dunia sudah mulai menipis. Persiapan menuju alam keabadian harus dipertebal. Hidup seperti air mengalir. berusaha dan yakin serta menerima apapun takdir Nya. Dan juga pendekatan diri kepada Ilahi harus lebih ofensif dan intensif seiring dengan memudarnya daya ingat, melemahnya kekuatan fisik dan mulai bersarangnya berbagai jenis penyakit. 
Barang siapa yang mencintai Tuhannya maka akan berjumpa dengan Nya. Dan siapa yang berjumpa dengan Tuhan maka dia akan bahagia di sisi Nya. Wujud dari rasa cinta adalah pertemuan dengan yang dicintai. Maka puncak dari nikmatnya orang beriman ketika sudah dibacakan kepadanya "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.'(Sesungguhnya semua milik Alloh dan semua akan kembali kepada Nya"


Selasa, 14 Maret 2017

GUWAT Pembawa Pesan Kematian

GUWAT si pesan Kematian

Di kampungku di Solo ada pemuda lajang, namanya Guwat. Badannya kecil. Orangnya memang tidak sempurna, Bisa dibilang bocor halus (maaf ya Wat). Usianya sudah 30an, teman-teman sebaya sudah pada punya anak. Kadang anak-anak temannya yang bermain dengan Guwat yang perawakannya persis anak SMP. Tapi lama-kelamaan Guwat malas bermain dengan anak-anak tetangga karena malah suka menggodanya. Sehari-hari Guwat memilih di rumah, membantu ibunya yang jualan nasi liwet. Guwat mbantu apa saja, belanja, cuci piring, bersih-bersih. Ayah Guwat sudah meninggalkannya ketika Guwat lahir dan pergi bersama wanita lain. Guwat yang tidak seperti orang normal dipiara oleh ibunya seorang diri. 
Guwat pasrah dan nrimo saja dengan kehidupannya yang serba kekurangan, Dia tetap sholat ke masjid. Anehnya setiap dia sholat ke masjid , anjing milik Bang Pardede selalu menyelak. Memang Guwat kalau berjalan cukup cepat, kami tidak tahu apakah karena itu anjing orang Batak itu menggonggong. Yang jelas Guwat cuek saja karena anjing itu diikat dekat pagar.Nggak banyak mengeluh. Ia pun gak kesal meski sering diledekin karena keterbatasannya. 
Satu yang menonjol dari si Guwat, ia selalu hadir jika ada orang yang meninggal. Dimana pun ada orang kesripahan (berkabung) Guwat selalu hadir selama ia mendengar informasi tersebut. Biasanya sih di musola yang tidak jauh dari rumahnya jika ada berita duka diumumkan lewat corong musola. Di rumah duka Guwat membantu apa saja entah nyuci piring, ngangkat kursi, pasang tenda dan sebagainya. 
Di saat seperti itu dia nggak banyak ngomong, dan hanya kerja.kerja, kerja. Persis slogan seorang Presiden di sebuah negeri Khatulistiwa. Guwat disuruh apapun mau membantu jika ada orang meninggal. Tanpa pamrih alias tidak minta upah namun kalau dikasih uang dia terima. Uang itu pun dia simpan untuk kebutuhannya beli sabun mandi, baju dan sebagainya. Kalau makan dia masih menumpang pada Mbok nya.
Lain Guwat lain pulak dengan Hesti, Hesti juga seorang penyandang keterbatasan mental. Dia anak seorang pendeta dan suka menyanyikan lagu gereja meski kurang jelas suaranya. Tapi dia sangat pede. Dia dulu teman Guwat, karena sama-sama kurang sempurna meski beda keyakinan, Mereka simbol bhinneka tunggal ika untuk golongan khusus. Yang heran meeka berdua nyambung dan orang lain tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tertawa dan bercanda seperti orang biasa. 
Namun ternyata ada yang tidak suka keakraban mereka. Orang-orang yang pendek nalarnya dan anti perbedaan telah meracuni pikiran mereka. Guwat dan Hesti diadu domba sehingga mereka saling memusuhi bahkan sampai gelut. Akhirnya mereka sampai jothakan, Dulu dimana ada Guwat disitu ada Hesti tapi kini dimana ada Guwat , tak ada Hesti dan sebaliknya. tangan-tangan jahat dan iri telah membuat persahabatn mereka hancur. 
Anehnya ada orang-orang senang retakan hubungan mereka. Isu agama membuat Guwat dan Hesti saling memusuhi. Padahal dulu Hesti yang anak orang mampu selalu mengantar makanan ke Guwat setiap Minggu pulang dari gereja, Dan Guwat suka membantu Hesti bersih-bersih rumah jika ada kebaktian. Namun ada orang yang melarang dan membisikan kata Haram kepada Guwat jika dikasih makan Hesti ataupun jika Guwat membantu di rumah Hesti.  
Dari situlah muncul pengkaplingan, kalau ada orang islam yang meninggal, maka itu jatahnya Guwat hadir dan Hesti di rumah, nah jika ada orang non muslim itu haknya Hesti dan Guwat libur dulu. Setelah aku bekerja dan tinggal di jakarta tak lagi mengikuti kabar mereka berdua. Tapi beberapa tahun silam aku mendengar hubungan mereka masih kelam. 
Ketika Ibu sedho (meninggal) bulan Februari lalu, tiba-tiba aku ingat Guwat, Setahuku dia tak pernah absen jika ada bendera kuning (lambang orang meninggal ) di rumah. Aku heran kemana pemuda lugu itu, apalagi dia tinggal nggak jauh dari rumahku. Biasanya dia datang pagi-pagi dan ikut bersih-bersih, Tapi sampai siang diantara kerumunan orang tak kudapati pemuda berbadan kecil itu. 
Aku kaget ketika pak RT membertitahu Guwat sudah meninggal beberapa tahun silam. meninggalnya mendadak, dan ak ke rumah sakit. Ternyata saat dokter datang Guwat menderita penyakit yang sudah parah . Penyakit yang dia tahan karena dia tidak mau membebani orangtuanya yang tidak punya biaya.  Guwat di Jawa bisa diartikan Kuat, sekuat orangnya menahan penyakit di tubuhnya. 
GUWAT bagiku adalah pesan kematian. Karena setiap ada orang meninggal disitu pasti ada GUWAT. Guwat menjadi ikon atau pertanda ada orang berduka. Tapi sekarang pesan kematinan itu sudah kembali kepada Tuhan. Dan Pesan itu sudah dicabut dan tak ada lagi pesan lain yang menggantikannya. Mungkin di hanya di musola saja, pesan kematian itu terdengar, Dimana selama ini musola digunakan hanya untuk 2 hal yakni Panggilan azan dan berita kematian.

Senin, 13 Maret 2017

HATI-HATI IKUT REUNI



Reuni artinya kembali bersatu, maksudnya supaya jalinan persahabatan yang terpisah jarak dan waktu itu kembali bersatu. Baik sebagai teman sekelas, se organisasi, se bagainya. Tapi kenyataannya Reuni malah menyatukan dua mantan yang sudah tidak muda lagi. Banyak kasus CLBK lantaran Reuni :(
Apalagi sekarang teknologi begitu maju, ada medsos, WA dan sebagainya yang bisa mempersatukan teman yang telah tercerai-berai. Syahdan grup-grup alumni pun terbentuk.
Nah yang bahaya adalah jika sudah menyenggol kenangan asmara. kata orang pernah sehati. Daya ingat akan mengorek-orek masa lalu bersama si dia.... duluuuuu..
Meski sekarang sudah sama-sama berumah tangga. Tapi yang namanya cinta gak bisa dihilangkan dari hati. Karena mau dibuang kemana pun bekasnya tetap saja ada.
Apalagi kini marak pertemuan reuni. Nah sebaiknya yang sedang bermasalah dalam rumah tangga dan ingin reuni dimana disana ada si mantan mohon urungkan dulu, kalau bisa ajak pasangan anda ke sana.
Pada dasarnya orang akan mencari kekurangan dirinya di orang lain. Dan rumput tetangga tidak selalu hijau. Jadi jangan paksakan diri ikut reuni jika disitu ada mantan atau yang pernah bertepuk sebelah tangan,.

https://www.youtube.com/watch?v=d-Ub3Sntyns

Kamis, 09 Maret 2017

(Stand Up Religi 10 Maret 2017) Kebahagiaan itu hanya di Hati yang Tenang

(Stand Up Religi 10 Maret 2017)
Kebahagiaan itu hanya di Hati yang Tenang.



Saudaraku, banyak orang yang ingin mencari kebahagiaan dengan pergi wisata, ke Bali, ke Eropa, ke Arab dan sebagainya. Katanya untuk refreshing atau istirahat/ liburan atau bersenang-senang, Namun apa yang terjadi setelah pulang dari berlibur, bukannya senang malah badan capek-capek, uang habis dan perasaan nggak karu-karuan (baca ; sumpek)

Saudaraku, banyak orang kaya tapi hdupnya tidak bahagia. Banyak orang hebat tapi hidupnya merana. Banyak orang populer yang malah ujungnya bunuh diri. Banyak pejabat tinggi yang akhirnya dijebloskan ke jeruji besi.
kita begitu memanjakan fsik kita dengan baju yang arnded, makan yang wah, mobil yang mewah, rumah yang megah. Tapi kita membiarkan ruh kia kosong, hati kita merana dan pikiran kita kemana-mana.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Jadi sumber dari kebahagiaan itu ada di hati. sementara tempat rekreasi itu hanya menjanjikan kesenangan duniawi untuk jasmani. Sumber kebahagiaan itu ada di hati yang bersiih, hati yang selalu mengingat Alloh, hati yang selalu bersyukur, hati yang sabar, hati yang ikhlas, hati yang lapang dan mau memaafkan, hati yang tenang dan mampu mengelola pikiran dan hawa nafsu.
Kebahagiaan tidak akan dijumpai pada hati yang penuh iri dan dengki, hati yang tak pandai bersyukur, hati yang tak iklhas, hati yang penuh kebencian, suuzhon, fitnah, nyinyir, provokatif an memperturutkan hawa nafsu.

Jadi kebahagiaan itu bukan pergi ke tempat hebat di dunia, atau bolak- balik ke tanah suci, atau mengikuti kelas-kelas motivasi. Tapi kebahagiaan itu ada di hatiku, hati yang tenang,


Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30

Senin, 06 Maret 2017

GENGSI

Hidup sederhana tanpa cicilan kredit ribawi itu nikmat sekali. Karena riba adalah dosa yang sangat besar, maka siapa yang masih melakukan praktek riba, akan dicabut keberkahan rezekinya dan akan dihapus ketenangan dalam hatinya. 
Sebenarnya rezeki Alloh itu sudah cukup untuk hidup (baca makan), tapi manusia adalah sarang hawa nafsu, maka segala macam pun diambil meski keuangan tidak ada. akhirnya kredit sana - sini dan setiap bulan pemasukan habis untuk membayar kredit.
Anehnya kebanyakan orang menurutkan nafsu bukan karena kebutuhan, tapi karena gengsi. Padahal gengsi adalah penyakit hati yang membuat hati tertekan, dunia sempit dan sulit bersyukur. Gengsi itu mahal dan banyak orang jatuh miskin karenanya.
Gengsi termasuk penyakit hati yang berbahaya, karena mengantarkan seseorang pada sifat cinta dunia. Gengsi muncul karena hati sudah terpaut dan jatuh cinta pada dunia. Orang yang memiliki sifat gengsi biasanya menjadikan dunia sebagai tolak ukur kemuliaan. Padahal apalah artinya mengejar kemuliaan di hadapan manusia jika di hadapan Allah hanyalah kesia-siaan?
Ingatlah pesan Rasulullah Saw., “Demi Alloh, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR. Bukhari dan Muslim)