Rabu, 23 Mei 2018

Revitalisasi Nilai Pancasila di Era Mileneal


Revitalisasi Nilai Pancasila di Era Mileneal


Jaman saya sekolah dulu, dari SD hingga kuliah mendapat “siraman kebangsaan” yang berjudul Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Program yang digulirkan oleh rezim Orde baru dibawah payung BP7 ini setiap tahun dilaksanakan untuk siswa baru di sekolah. Gnerasi yang masa pendidikan sekolahnya antara 1980-an hingga awal 1990-an masih sempat merasakan penanaman doktrin Pancasila. Apalagi waktu itu ada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila selama 2 jam setiap minggu di setiap kelas. Bisa dikatakan, dulu tak ada orang yang tak hafal Pancasila, atau ada anekdot yang mengatakan hanya orang aneh yang tak hafal Pancasila.  Selain Penataran P4 untuk siswa baru, juga ada cerdas cermat P4 di layar kaca dan Forum Negara Pancasila di corong RRI. Pemerintah pun secara masif menggerakan penanaman Pancasila hingga ke desa-desa.
            Namun Era Reformasi 1998, telah mengubah paradigma bangsa. Ditambah globalisasi yang mencengkeram dunia. Semua paham yang ada di belahan dunia manapun dapat diakses dengan mudah oleh anak bangsa melalui saluran internet. Tak ada sekat lagi antar bangsa. Akibatnya paham-paham luar yang berbau liberal, radikal dan yang tak sesuai dengan nilai Pancasila masuk ke setiap dinding rumah masyarakat yang tanpa sekat.
            Nilai-nilai karakter Pancasila yang ditanamkan pada generasi jaman old dan menjadi filter bagi pengaruh ideolog lain sudah tak ada lagi. Harapan penanaman karakter bangsa kini hanya bertumpu pada pendidikan PKN di sekolah. Namun tumpuan tersebut terlalu lemah untuk menggembleng karakter bangsa yang berjiwa Pancasila. Faktanya paham dan ideologi luar ternyata mampu mempengaruhi karakter anak muda ditengah terpinggirkannya Pancasila.
            Kini, jika ditanya tentang bunyi sila-sila dalam Pancasila, tidak semua orang hafal. Bahkan sebuah cletukan megatakan anak-anak jaman now lebih hafal mars lagu sebuah partai politik tertentu ketimbang 5 sila Pancasila. Sesuatu yang sangat ironis. Apalagi masih banyak orang yang salah menyampaikan isi Pancasila. Untuk mengamalkan nilai Pancasila tentu kita harus hafal dulu isinya, harus menghayati maknanya dan mengerti kandungan nilanya baru mengamalkannya.

Dekadensi Pancasila
Disadari atau tidak, ideologi Pancasila mulai tergerus terutama di kalangan generasi mileneal. Sejak bergulirnya era reformasi 1999, maka Pancasila kehilangan arah. Hampir semua orang tahu apa itu Pancasila, tetapi tidak semua tahu apa saja nilai-nilai di dalamnya. Apalagi pengamalannya, jauh panggang dari api.
            Jujur dengan derasnya arus globalisasi tahun 2000an, generasi muda  lebih terpengaruh paham luar yang masuk ke bumi pertiwi ketimbang nilai-nilai Pancasila, yang dianggap terlalu tua. Ada 3 alasan kenapa Pancasila tidak diminati oleh anak muda?
            Pertama, sejak era reformasi, Pancasila dianggap sebagai simbol era Orde Baru yang  ikut dikubur bersama dengan tumbangnya rezim Suharto. Terbukti dengan dicabutnya Tap MPR mengenai Pancasila sebagai satu-satunya azas  serta dibubarkannya BP7.          Sehingga stigma   Pancasila menjadi tercoreng atas ‘dosa-dosa’ rezim Orde Baru yang penuh dengan nuansa KKN. Disamping itu pola-pola doktrinir yang dilakukan oleh  BP7 dalam pelaksanaan sosialisasi Pancasila dalam penataran P4 tidak sesuai dengan nuansa jaman. Apalagi terjadinya inkonsistensi para pemimpin saat itu dimana di satu sisi ingin menerapkan Pancasila secara murni dan konsekuen namun disisi lain melanggar Pancasila dengan perilaku yang menyimpang misalnya korupsi dan sebagainya.
            Kedua, Kurangnya kepedulian pemerintah era Reformasi. Dari pemerintahan Presiden Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY hingga sekarang Jokowi belum ada terobosan berarti untuk menggalakkan lagi nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlihat para pemimpin masih gamang dan canggung untuk mengambil langkah strategis untuk mengintensifkan penanaman nilai Pancasila. Mereka masih trauma dengan akibat masa kelam orde Baru yang menjerumuskan Pancasila hingga ke dasarnya.
            Ketiga, masuknya idelogi luar. Paham dari luar lebih menggoda dan menggiurkan generasi muda daripada paham miliknya sendiri. Istilah kata, rumput tetangga terlihat lebih hijau. Apalagi akses media yang terbuka lebar termasuk media sosial sehingga  anak muda dapat mengamati perkembangan ideologi yang ada di dunia. Dan mereka akan memilih sesuatu yang lebih menguntungkan bagi dirinya. Nuansa jaman era Reformasi ditambah derasnya arus globalisasi membuat generasi muda semakin kritis dalam bersikap. Paradigma lama yang dianggap kuno dan tidak relevan akan tersingkirkan dengan pemikiran baru yang lebih kreatif dan modern.
Perubahan Perilaku Generasi Mileneal
Perilaku yang saat ini mengental pada diri pemuda mileneal adalah minimnya daya juang karena semua fasilitas sudah disediakan oleh perkembangan teknologi. Semua informasi bisa didapatkan secara gratis melalui situs-situs online. Bahkan kemudahan itu semakin menyederhanakan pola hidup generasi milenela pada standar yang lebih praktis, mudah dan hemat.
            Dalam cara bersosial media pun, generasi mileneal sudah masuk pada pemahaman-pemahaman yang diyakini menurutnya benar dalam berpolitik dan berbudaya. Bahkan pengaruh ideologi luar yang tidak cocok dengan ideologi bangsa juga mendapat tempat di hati generasi. Budaya selfie, pamer, menyebarkan berita, share atau viral dilakukan secara jamak. Terkadang berita itu belum tentu kebenarannya, tapi karena memiliki pemahaman yang sama maka tetap diviralkan yang akhirnya berujung hoax. Perubahan perilaku ini akan membentuk mental generasi muda ke depan jika kelak mereka menjadi pemimpin bangsa atau duduk di posisi strategis di pemerintahan.
            Pada generasi mileneal, perkembangan situasi nasional cukup memprihatinkan dengan banyaknya permasalahan yang muncul secara bergantian di seluruh sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dampak demokratisasi yang tidak terkendali dan tidak didasari dengan pemahaman nilai-nilai Pancasila telah memunculkan sikap individualistis yang sangat jauh berbeda dengan nilai-nilai Pancasila yang lebih mementingkan keseimbangan, kerjasama, saling menghormati, kesamaan, dan kesederajatan dalam hubungan manusia dengan manusia.

Revitalisasi Pancasila
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang lahir karena kemajemukan dan perbedaan yang dipersatukan oleh kesadaran kolektif untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Perjuangan panjang bangsa untuk bersatu, diwarnai oleh kepahitan dan perjuangan fisik yang panjang dari generasi pendahulu bangsa untuk merdeka. Bukan merupakan hal yang mudah bagi para pendiri negara (founding fathers) menyepakati Pancasila, yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, dan menetapkannyasebagai dasar negara.
            Sebagai Dasar Negara, Pancasila merupakan ideologi, pandangan dan falsafah hidup yang harus dipedomani bangsa indonesia dalam proses penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa dan memiliki nilai dasar yang diakui secara universal.
            Namun, kini apa yang telah diperjuangkan para pendiri dan pendahulu bangsa tengah menghadapi batu ujian keberlangsungannya. Globalisasi dan euphoria reformasi yang sarat dengan semangat perubahan, telah mempengaruhi pola pikir, pola sikap dan pola tindak generasi penerus bangsa dalam menyikapi berbagai permasalahan kebangsaan. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menyadarkan nilai Pancasila pada generasi muda yakni:

1.      Pancasila bukan Produk Orde Baru
Pancaila lahir dari inisiatif para pendiri bangsa pada 1 Juni 1-45, sedangkan Orde Baru berkuasa pada tahun 1966. Jelas Pancasila bukan produk Orde Baru. Kehadiran Orde baru  dengan jargon mengamalkan Pancasila secara murni dan konsekuen justru menjadi bumerang. Karena Pancasila sebagai nilai luhur bangsa, telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru yang justru malah melanggar Pancasila dengan praktek Korupis, Kolusi dan Nepotismenya.

2.      Pendirian Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BP-PIP).
Kehadiran BP-PIP pada masa Presiden Jokowi merupakan sebuah terobosan untuk membentuk sebuah lembaga yang fokus mengelola pembinaan ideologi Pancasila. BP-PIP berbeda dengan BP7 jaman orde Baru, karena jejaring BP7 tersebar hingga ke tingkat kabupaten. Sedangkan BP-PIP hanya bertugas menggodok konsep yang akan dijalankan oleh berbagai lembaga. BP-PIP tidak mengambil kewenangan lembaga-lembaga yang sudah ada tapi justru memberi arah agar program Pancasila dan wawasan kebangsaan yang sudah dijalankan tidak overlapping, tidak hanya di permukaan tapi lebih sistematis dan terstruktur.

3.      Masuknya Ideologi Luar
Perlunya pemahaman kepada generasi mileneal bahwa ideologi Pancasila adalah ideologi yang terbaik dan tepat diterapkan di bumi nusantara yang heterogen. Ideologi  di luar yang kelihatannya menarik belum tentu cocok diterapkan di Indonesia karena faktor latar belakang budaya dan keberagaman yang berbeda. Ideologi Pancasila adalah ideologi yang menyatukan kebhinnekaan bangsa. Pancasila sebagai pemersatu kemajemukan bangsa.
            Pancasila merupakan ideologi yang cocok bagi bangsa Indonesia. Dalam sila pertama, Ketuhanan telah menjawab permasalahan keyakinan bangsa Indonesia terhadap yang Maha Pencipta. Pada dasarnya semua bangsa di dunia, memiliki latar belakang sejarah, budaya dan peradaban yang dijiwai oleh nilai-nilai moral keagamaan (theisme-religious) maupun nilai nonreligious (sekular, atheisme). Intinya, setiap bangsa senantiasa menegakkan nilai-nilai peradabannya dengan dijiwai, dilandasi dan dipandu oleh nilai-nilai religious atau non-religious. Demikian pula halnya dengan bangsa Indonesia yang majemuk dan multikultur, telah hidup dengan hidup keagamaan yang kuat sebagai landasan moral dalam kehidupan ketaanegaraannya.
            Selanjutnya, sila kedua Pancasila, merupakan bentuk kesadaran bahwa bangsa Indonesia sejak dulu telah menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sesuai budaya bangsa yang beragam. Dalam budaya bangsa, manusia senantiasa ditempatkan dan diperlakukan sesuai dengan kodrat sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai seni budaya bangsa yang mengagungkan manusia sesuai dengan kultur dan budaya yang beragam.
            Menyadari keragaman dan pluralitas yang dimiliki bangsa dan belajar dari pengalaman masa penjajahan, maka sila ketiga, persatuan bangsa Indonesia menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia yang majemuk. Justru dengan kemajemukan yang dimiliki, bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat banyak di dunia. Prinsip persatuan indonesia bukan berarti menghilangkan eksistensi, ciri dan identitas masing-masing suku bangsa. Eksistensi, ciri dan identitas masing-masing suku bangsa tetap terpelihara dan terjaga keberadaannya.
            Sila keempat sebagai bentuk kesadaran dan pengejawantahan prinsip-prinsip kehidupan kelembagaan yang didasarkan pada perilaku kehidupan gotong-royong yang telah mengakar dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak dulu. Sifat kegotongroyongan dan musyawarah mufakat telah menjadi pilar kehidupan dalam kehidupan bermasyarakat secara turun temurun. Mengingat tantangan sebagai bangsa yang majemuk dan pentingnya persatuan bangsa, maka prinsip-prinsip kelembagaan yang didasarkan pada musyawarah untuk mufakat merupakan tuntunan bagi bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan kelembagaan negara yang menentukan masa depan bangsa yang berkeadilan. Dengan demikian prinsip-prinsip sila kelima, keadilan merupakan kristalisasi keinginan dan cita-cita bangsa untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.


Komitmen Generasi Muda
Bukan suatu hal bagi generasi penerus untuk mempertahankan komitmen para pendiri bangsa dalam memperjuangkan nilai-nilai luhur Pancasila. Dinamika perkembangan lingkungan strategis, baik global, regional maupun nasional setiap jaman dan era kepemimpinan, sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya pola pikir, pola sikap dan pola tindak generasi penerus dalam menyikapi berbagai permasalahan mendasar yang dihadapi bangsa.
            Generasi muda adalah generasi terbaik bangsa, yang harus mampu berprestasi mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional atau bahkan internasional. Pemuda harus mengisi waktunya dengan terus berkarya sebagai bentuk bahwa Indonesia adalah negara yang kuat dan berdaya. Generasi muda harus mampu menciptakan produk asli Indonesia dalam segala bidang sehingga tidak ada barang impor di negeri ini. Gerakan beli produk beli  barang produksi Indonesia menjadi alternatif mengatasi krisis karena membuat bangsa menjadi kuat dan mandiri sehingga tidak bergantung dari impor, dimana akan memakai mata uang asing. 
            Tantangan terbesar generasi penerus saat ini adalah kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat. Kemajuan teknologi informasi telah merubah hubungan antar negara dan pola hubungan antar manusia. Kehadiran internet dan teknologi komunikasi ikutan lainnya, memungkinkan manusia berhubungan dan berkomunikasi setiap saat dan tanpa batas. al ini dapat memberikan kontribusi positif bagi proses pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Namun disisi lain, teknologi informasi dapat digunakan sebagai sarana melemahkan ketahanan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan suatu negara.  
            Semua dampak euphoria reformasi yang kita hadapi saat ini, perlu disikapi oleh segenap komponen bangsa melalui pemahaman yang benar, utuh dan menyeluruh dalam konteks semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat tersebut merupakan kata kunci dari aktualisasi dan implementasi nilai-nilai luhur Pancasila yang harus terus ditumbuh kembangkan oleh generasi penerus.
            Seluruh komponen bangsa harus mampu menyikapi berbagai permasalahan, perbedaan dan kemajemukan dengan berpedoman pada empat pilar wawasan kebangsaan yang dibangun oleh para pendiri bangsa. Seluruh anak bangsa harus proaktif untuk menciptakan, membina, mengembangkan dan memantapkan persatuan dankesatuan bangsa yang kerap menghadapi potensi perpecahan. Generasi penerus harus mampu menghidupkan kembali sikap dan budaya gotong royong, silahturahmi dan musyawarah untuk mufakat yang hakikinya merupakan ciri bangsa Indonesia sejak dulu. Pemuda harus mampu mempelopori untuk memahami, menghayati dan mengimplementasikan nilai – nilai Kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai daya tangkal terhadap berbagai potensi yang mengancam keutuhan NKRI.
####


Sabtu, 21 Oktober 2017

GUWAT PEMBAWA PESAN KEMATIAN

GUWAT Pembawa Pesan Kematian

Di Solo ada pemuda lajang, namanya Guwat. Di Jawa nama Guwar bisa diartikan Kuat, Badannya kecil tapi orangnya kuat. Orangnya memang tidak sempurna, Bisa dibilang keterbelakangan mental. Ngomongnya tidak jelas, kadang harus dibantu isyarat anggota badan. Usianya sudah 30-an, teman-teman sebaya sudah banyak yang punya anak.  Kini terkadang anak-anak temannya yang bermain dengan Guwat yang perawakannya persis anak SMP. Tapi lama-kelamaan Guwat malas bermain dengan anak-anak tetangga karena malah suka menggodanya.
Sehari-hari Guwat memilih di rumah, membantu ibunya yang jualan nasi liwet. Guwat mbantu apa saja, belanja, cuci piring, bersih-bersih. Ayah Guwat sudah meninggalkannya ketika Guwat lahir dan pergi bersama wanita lain. Guwat yang tidak seperti orang normal dipiara oleh ibunya seorang diri.
Guwat pasrah dan nrimo saja dengan kehidupannya yang serba kekurangan, Dia tetap sholat ke masjid setiap azan, habis sholat langsung pulang. Anehnya setiap berjalan ke masjid , anjing milik Bang Pardede selalu menggonggong. Guwat cuek saja karena anjing itu dikat dip agar. Guwat kalau berjalan cukup cepat, seperti buru-buru. Ia nggak banyak mengeluh. Ia pun gak kesal meski sering diledekin karena keterbatasannya.
Satu yang menonjol dari  Guwat, ia selalu hadir jika ada orang yang meninggal. Dimana pun ada orang kesripahan (berkabung) Guwat selalu ada selama ia mendengar informasi tersebut. Biasanya sih di musola yang tidak jauh dari rumahnya jika ada berita duka diumumkan lewat corong musola. Di rumah duka Guwat membantu apa saja entah nyuci piring, ngangkat kursi, pasang tenda dan sebagainya.
Di saat seperti itu dia nggak banyak ngomong, dan hanya kerja.kerja, kerja. Guwat disuruh apapun mau membantu j. Tanpa pamrih alias tidak minta upah namun kalau dikasih uang dia terima. Uang itu pun dia simpan untuk kebutuhannya beli sabun mandi, baju dan sebagainya. Kalau makan dia masih menumpang pada Mbok nya.
Lain Guwat lain pulak dengan Hesti, Hesti juga seorang penyandang keterbatasan mental. Dia anak seorang pendeta dan suka menyanyikan lagu gereja meski kurang jelas suaranya. Tapi dia sangat pede. Dia dulu teman Guwat, karena sama-sama kurang sempurna meski beda keyakinan. Mereka simbol bhinneka tunggal ika untuk golongan khusus. Yang heran mereka berdua ternyata nyambung dan orang lain tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tertawa dan bercanda seperti orang biasa.
Namun ternyata ada yang tidak suka keakraban mereka. Orang-orang yang pendek nalarnya dan anti perbedaan telah meracuni pikiran mereka. Guwat dan Hesti diadu domba sehingga mereka saling memusuhi bahkan sampai gelut (berantem). Akhirnya mereka sampai jothakan (membenci), Dulu dimana ada Guwat disitu ada Hesti tapi kini dimana ada Guwat , tak ada Hesti dan sebaliknya. tangan-tangan jahat dan iri telah membuat persahabatn mereka hancur.Image result for keterbelakangan mental
Padahal dulu Hesti yang anak orang mampu selalu mengantar makanan ke Guwat setiap Minggu sepulang dari gereja, Dan Guwat suka membantu Hesti bersih-bersih di rumah Hesti jika ada kebaktian. Namun ada orang yang melarang dan membisikan kata Haram kepada Guwat jika dikasih makan Hesti ataupun jika membantu di rumah Hesti.
Dari situlah muncul pengkaplingan, kalau ada orang islam yang meninggal, maka itu jatahnya Guwat dan Hesti di rumah, nah jika ada orang non muslim itu haknya Hesti dan Guwat libur dulu.
Singkat cerita Guwat meninggal mendadak sehabis sholat subuh di masjid. Saat dokter memeriksa Guwat menderita penyakit yang sudah parah. Penyakit itu dia tahan karena dia tidak mau membebani orangtuanya yang tidak punya biaya. Dan ketika Guwat meninggal, Hesti datang takziah. Hesti menangis tersedu-sedu dan mendoakan Guwat sesuai imannya. Ada orang-orang yang tidak suka kehadiran Hesti, namun Ustad dan RT mempersilakan Hesti melayat.
GUWAT adalah pesan kematian. Karena setiap ada orang meninggal disitu pasti ada GUWAT. Guwat menjadi ikon atau pertanda ada orang berduka. Tapi sekarang pesan kematinan itu sudah kembali kepada Tuhan.Pesan itu sudah dicabut dan tak ada lagi pesan lain yang menggantikannya. Mungkin di hanya di musola saja, pesan kematian itu terdengar. Dimana selama ini musola digunakan hanya untuk 2 hal yakni Panggilan azan dan berita kematian.

Insyaallah Launcing 30 November 2017
Dapatkan BUKU Nya Pre ORDER Hanya Rp 50 ribu belum Ongkos Kirim
Pemesanan hubungi Wa 0813-10054310






Sabtu, 30 September 2017

Jonru tidak membenci Jokowi



Sebagai sahabat yang mengenal Jonru atau Jonriah Ukur Ginting selama 20 tahun, saya yakin apa yang dilakukan Jonru di FP dengan berbagai postingan bukan karena dia membenci Jokowi. Karena Jonru tidak pernah punya masalah secara pribadi, hanya Jokowi adalah pesaing dari Capresnya Prabowo. Jonru membuat postingan yang "menyerang" Jokowi bukan kemauannya, tapi karena dia harus mengelola fan pagenya yang mayoritas adalah pendukung Prabowo. Hal ini bisa dilihat dari data ketika Jonru memposting status yang "menyudutkan" Jokowi maka statusnya akan dilike dan dishare ribuan orang dan ketika dia jualan kaos atau sprei sedikit peminatnya. Jonru takut ditinggal followernya yg mencapai 1,5 juta namun kadang dalam membuat status kurang pas, dan cenderung tidak logis hanya untuk meng customer service kliennya.
Terus kenapa Jonru harus mengelola FP facebooknya sedemian rupa, alasannya semata-mata karena materi.
1. Bisnis Jonru kurang berhasil, saya pernah bekerja sama dengan Jonru sejak 2008, dan tahun 2011 pernah mendirikan Writers Academy tetapi kandas. lalu mengadakan pelatihan penulisan, namun yg untung hanya pelatihan corporat, Jonru mendirikan Dapur Buku tapi juga tidak sukses, sebelum dia sibuk mengelola FP nya.
2. Jonru menjadikan FP sebagai ajang cari uang, maka ketika FP nya rame dia bisa jualan apa saja, buku, sprei, kaos, dan menerima iklan serta terakhir menjadi lembaga penerima donasi, sedekah sahabat yg berganti menjadi akrom fondation
3. Jonru tidak pernah dibayar oleh politikus, parpol atau Prabowo sekalipun, Dan apa yang dilakukan Jonru adalah mandiri dan tidak diback dana siapapun. Faktanya ketika dia bermasalah tak ada satu pun elite politik yang membelanya.

Jadi kesimpulannya, Jonru menjadikan Jokowi sebagai upaya menjaga FP nya yang selama ini dijadikannya sebagai mata pencaharian. Tidak ada muatan atau kepentingan politis atas pemerintah




Senin, 18 September 2017

Lara Rohingya adalah Duka Kita

Hijrahnya Rohingya dalam konstelasi Poliik Asean

Insyaallah besok umat islam di jagat bumi akan merayakan tahun Baru islam 1439 Hijriah atau hijrah. Hijrah artinya berpindah, maksudnya berpindah dari yang buruk kepada yang baik. Nabi saw berhijrah pada tahun 624 H dari mekah yang panas dan ganas menuju Madinah yang sejuk dan bersahabat. Dan ketika hijrah ke Madinah jumlah pengikut Rasulullah terbatas hanya ratusan. 10 tahun kemudian rasulullah mampu menghimpan puluhan ribu umat di Madinah dan mereka hendak melaksanakan haji ke Mekah. Dan selama 10 tahun Muhammad Saw berhasil membangun masyarakat yang gelap menjadi terang benderang atau Munawarah.

Kaum Qurais pun gentar ketika Rasulullah ingin ke mekah dengan kekuatan penuh. Jikalau nabi saw ingin membalas dendam atas perlakukan keji orang Mekah, tentu sesuatu yang sangat mudah. tapi Rasul menjamin tak ada setitik darah yang akan tumpah bila rombongan dari Madinah tidak dihalangi menuju Kabah. Dan karena ketakutan dan kecut hati, kaum kafir Qurais hanya bisa memandang kedatangan umat Muhammad dari lubang kecil di rumah-rumah mereka.

Hijrah bisa dimaknai sebagai upaya memperbaiki diri ke kehidupan yang lebih baik. Hijrah dalam konteks luas, bisa diterapkan dalam segala keadaan. meninggalkan pekerjaan yang kurang berkembang ke pekerjaan yang tergambar masa depannya. meninggalkan kebiasaan sholat di rumah dengan sholat berjamaah. dan menghilangkan energi kotor di lidah dengan pembicaraan yang baik.

Hijrah yang sejati adalah hijrahnya hati. hati yang selalu iri jika melihat orang lain sukses, menjadi hati yang ikhlas, hati yang selalu sombong dengan kenikmatan menjadi hati yang egaliter, hati yang selalu kufur dan berkeluh kesah menjadi hati yang sabar dan syukur. dan hati yang keras tidak mau beribadah menjadi hati yang taat menjalankan perintah Tuhan dan hati yang menaburkan kecintaan semesta.

Apakah Rohingya Hijrah?
Penduduk Rohingya di Rakhine mayoritas muslim, tahun 2012 berjumlah 1,2 juta jiwa, kini diperkirakan jumlahnya merosot hingga 50%. Ada 400 ribu di dtenda penampungan pengungsi Banglades, ada ratusan ribu yang menyebar di beberapa Negara , puluhan ribu yang meninggal baik dibunuh oleh tentara Myanmar maupun tenggelam di laut. Yang jelas hingga saat ini pasukan Myanmar terus menggempur warga Rohingya dan memaksa mereka untuk meninggalkan propinsi Rakine.

Apa yang terjadi pada kum muslim Rohingya bukanlah hijrah yang sesuai syariah. Mereka terpaksa eksodus karena memilih antara hidup di pengasingan atau mati di rumah sendiri. Tidak diakuinya warga Rohingya muslim oleh pemerintah Myanmar adalah biang kerok masalah kemanusiaan tersebut. Sewaktu-waktu bom itu bisa meledak dan puncaknya di tahun 2017 ini, tentara Myanmar melakukan pembersihan etnis suku Rohingya dan memasang ranjau di perbatasan Bangladesh agar mereka tidak kembali ke dinegeri yang dipimpin periah Novel Perdamaian Aung Sang Suu Kyi.

Dunia Islam haris bergerak dengan mengambil tindakan nyata. Diplomasi internasional harus disuarakan untuk memberi sanksi kepada Myanmar, kemudian bantuna kemanusian harus disalurkan untuk menjamin kelangsungan hidup suku Rohingya di kamp pengungsian. Hijrah dalam kontek Rohingya adalah bersatunya umat Islam melepaskan perbedaan dan satu suara membela muslm Rohingya, Diperlukan keberanian dan ketegasan pemimpin muslim dalam membela saudara mereka yang seiman yang kini sedang teraniaya dan diancam kepunahan.

Dudun Purbakala, komika sosial media  


Rabu, 06 September 2017

Jendral Bintang Dua Saja Dibentak Jonru Ngacir

Jendral Bintang Dua Saja Dibentak Jonru Ngacir

Ucapan Jonru di ILC Tipiwan belum lama ini yang mengatakan "saya tidak takut" memang benar adanya. sebagai teman yang mengenalnye lebih dari 20 tahun, saya tahu banyak tentang Jonru.  
Ada sebagian orang bilang Jonru  kerjaannya hanya di depan laptop update status, tidak berani keluar rumah. Hahaha Saya tertawa, tahu dari mana? Saya sering melihat dia keluar sendiri bawa sepeda motor. Bahkan saya akhir2 ini bertemu dua kali yakni di Smesco pada saat buka bersama TDA dan sebelumnya di basis Forkot (forum Kota) di UKI Cawang. Semua fine-fine, kalau pun ada yang lihat dan kenal paling hanya bisik-bisisk sama teman sebelahnya. Pernah sih ada yang menyapa waktu saya makan sama Jonru di Sucofindo, itu wajar saja. Yang jelas Jonru aman-aman saja kok.
Terus ada yang suka mengejek, sekuat apa sih Jonru? Kok dalam videonya di Youtube terkesan "lemah lembut" begitu…. Kata siapa? Dia Cuma mengenal Jonru dari dunia maya. Jonru kalau sudah marah semua diam. Saya punya cerita nih. Waktu itu saya sedang di kantornya Dapur Buku, ada klien seorang jenderal bintang 2 dari mabes TNI (nggak sopan kalau sebut nama) yang ingin menerbitkan buku. Klien yang senior ini menurut Jonru orangnya ribet, mintanya macam-macam dan membingungkan. Nah suatu ketika dia datang ke kantor dan saya ada di situ. Orang itu minta ini itu dan komplen yang membuat Jonru marah? Akhirnya Jonru mengusir dengan suara keras. Orang itu lalu pergi, dan tak pernah kembali lagi

Mungkin karena darah Batak mengalir segar dan kencang, jadi Jonru galak juga hehehe, kalau marah keluar Medannya hehehe. Eh Itu nggak Cuma sekali, mungkn ada beberapa kali juga Jonru marah kayak gitu. Kalau sudah marah omongnya kencang sekali bikin orang jadi keder. Nah kalau masih ada yang bilang Jonru orang nggak tegas ayo main ke rumahnya dan cari masalah biar dimarahi hihihih.
Minggu lalu, di sebuah kantin di UKI Cawang Jakarta, Jonru mengajak saya bertemu. Maklum kami adalah kawan lama sejak kuliah dan nyaris 6 bulan tidak berjumpa. Terakhir saya bertemu Jonru di kantornya Surveyor Indonesia, Desember 2015 silam. Saya anggap ini pertemuan antar sahabat yang dulu hampir 3 tahun pernah mengadakan pelatihan penulisan, baik publik maupun korporat. Namun setahun belakangan, kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Jonru menjadi sponsor dari sebuah produk tes sidik jari , mengelola Dapur Buku dan menjadi mediator kegiatan amal yang tergabung dalam "Sedekah Sahabat". Belakangan yang disebut terakhir malah lebih intens dilakukan oleh laki-laki kelahiran Karo tersebut.

Sedangkan saya, masih menggeluti dunia penulisan. Menjadi ghost writers atau penulis bayaran baik pribadi maupun perusahaan, dan terakhir mengerjakan proyek buku pembangkit Listrik dari PT Pembangunan Perumahan Persero. Selain masih manggung untuk mengisi pelatihan penulisan seperti biografi, artikel atau knowledge chapturing untuk publik atau korporat. Terakhir bulan Mei 2016 lalu saya ngamen di Komisi Keselamatan transportasi atau KNKT Lalu di 2017 dua kali ngisi di PT PJB anak perusahaan PLN. Di sela kesibukan, saya juga sempat masih menulis Novel terakhir judulnya Sacred Promise, Yang berKisah tentang Wartawan yang menguak skandal korupsi Dana Haji yang insyaallah akan terbit September 2016 ini. Di kala senggang saya juga membuat celotehan dan kritikan yang berbalut komedi dengan nama komika Dudun Purbakala di youtube atau vidio.com. Alhamdulillah satu diantara video tersebut menang lomba di PON Jabar 2016 ini. Silakan lihat , kalau tidak lucu jangan tertawa heheh.

Eh lupa, tadi saya mau ngomongin tentang pertemuan dengan Jonru ya. Sorry ya jadi kemana-mana. Anggap saja itu perkenalan singkat dengan saya. Inti pertemuan dengan bapak 3 anak tersebut adalah saya diminta Jonru untuk membuat event menyambut 1juta liker di FP facebook Jonru. Selama ini Jonru mengenal saya punya kompetensi di bidang event organiser, karena sudah mengadakan banyak event baik di Telkom, Bank Indonesia, Pusaka Indonesia dan sebagainya.

Sabtu, 02 September 2017

Jonru itu seorang Stand Up Comedy

Jonru itu seorang Stand Up Comedy


Orang mengenal Jonru baru dua tahun belakangan sebagai seorang penulis buku dan pegiat sosial media. Namanya moncer dan penuh kontroversi di jagat media massa berkat postingannya yang sering mengkritisi Presiden Jokowi. Bahkan kini Fan page FB nya telah mendulang 1,5 juta follower meski tak semuanya adalah Lover nya. Terakhir Jonru semakin naik daun setelah tampil di ILC tipiwan, apalagi ketika Akbar Faisal anggota DPR Partai Nasdem meminta Polisi menangkapnya, Jonru berteriak tidak takut.yang kemudian diiringi dengan dilaporkannya  akun medsosnya ke Polda Mtero Jaya atas dugaan pelanggaran UU ITE.

 Postingan Jonru di FP Facebooknya memang sangat ganas, keras, berani bahkan kadang-kadang konyol. Kalau saya melihat FP Jonru memang bumi ini telah terbelah dua yakni yang pro dan kontra pemerintah. Karena bumi terbelah maka satu sisi disebut bumi bulat dan sisi lain sebagai bumi datar. Dengan adanya dua bumi ini FP Jonru selalu panas dan bergejolak. Dan saya sebagai penghuni bumi yang tidak terbelah berusaha untuk netral dan tidak memecah. 

Pertinyiinnyi, apakah Jonru dalam kehidupan sehari-hari sekeras statusnya di soisla media?  Sebenarnya watak keras itu hanyalah satu sisi dari kehidupan pemilik nama KTP Jonriah Ukur Ginting ini. Banyak sisi-sisi kehidupan pria Karo ini yang unik dan tak pernah disentuh oleh media. Sebagai sahabat yang sudah mengenalnya lebih dari 17 tahun, tentu saya mempunyai cerita-cerita menarik dari sosok yang fenomenal tersebut. Dalam tulisan ini saya mencoba mengurai hal-hal nyentrik dari pria alumni Akutansi Undip tahun 1998 ini.

1.Komedian
Tak ada yang tahu, bahwa sebenarnya Jonru itu mempunyai selera humor yang tinggi. Buktinya setiap mengisi pelatihan penulisan dengan saya, Jonru selalu menyelipkan kalimat yang lucu. Misalnya sewaktu mengoreksi tulisan karyawan BI pada saat pelatihan penulisan artikel di Trans Hotel Bandung 2014 silam. Ketika itu Jonru mengomentari sebuah tulisan peserta dengan kalimat, “Tulisan ini seperti nenek-nenek yang memakai baju ABG.” Sontak kalimat itu membuat orang tertawa.

Lalu sewaktu saya dan Jonru mengisi pelatihan di sebuah yayasan sekolah anak di daerah Bekasi. Waktu itu ada beberapa siswa yang berasal dari sekolah bernama SD Sabilina, namun ketika berbicara di depan umum Jonru mengucapkan jadi SD Salahbina , tentu kami semua tak bisa menahan tawa, meski guru-gurunya langsung mengoreksi. Entah sengaja atau tidak tentu kejadian itu mengundang gelak tawa.

Jika dilihat dari penampilan, Jonru terkesan sangat serius  padahal dalam dirinya mengalir bakat stand up comedy. Penampilannya selalu polos, apa adanya dan tanpa kompromi, bahkan seorang kawan di pers kampus Undip pernah mengatakan jika Jonru disuruh berdiri saja diatas panggung sudah lucu,  apalagi ngomong heheheh, sorry ya Jon.

Jonru orangnya sangat focus, jadi kalau sedang naik motor jangan sekali-kali memanggilnya karena dia tak akan menoleh. Alasannya mungkin karena factor keselamatan, karena kalau menoleh akan mengganggu konsentrasinya. makanya kalau naik motor saya selalu di belakangnya, sebab kalau di depannya takut Jonru nyasar kemana heheh

2.Asyik dengan Dunianya
Yang saya tahu, kalau Jonru sudah suka dengan dunianya (kesibukannya) ia tak bisa atau tak mau diganggu gugat. Misalnya ketika dia lagi asyik mengetik tulisan di computer , diajak bicara pun tak akan dijawabnya. Selain itu Dia hanya mau mengerjakan sesuatu yang ia suka. Bahkan ia pernah menolak pekerjaan meski dibayar lebih mahal, karena ia tak suka. Buatnya Mending mengerjakan sesuatu yang tak dibayar tapi ia sukai. Prinsip inilah yang aku kurang suka heheh.



3. Tidak takut
Jangan heran di ILC Jonru sempat berteriak lantang, saya tidak takut. Setahu saya Jonru memang tidak takut dengan siapa pun, katanya hanya pada Tuhan saja dia takut. Pernah dia membentak seorang pensiunan TNI Bintang 2 yang menjadi kliennya. Waktu itu  Jonru menganggap permintaan kleinnya berlebihan sehingga ia lantas mengusir dari kantornya. Maka tak heran, Jonru tak takut dengan banyaknya ancaman dengan posisinya sekarang sebagai oposan sejati Jokowi. Jika Bintang 2 TNI AD saja ngacir, bagaimana dengan yang lain heheheh

Sebagai teman sebanding, saya menemukan banyak potensi komedi yang tersimpan dibalik “ketajaman”penanya dalam mengkritis fenomena yang terjadi di masyarakat. Karena seorang pelawak sejati adalah seorang yang sangat serius, polos, kritis dan lucu dan modal itu sudah ada pada Jonru. Ditambah Jonru adalah seorang penulis sehingga lebih mudah dalam membuat materi stand up comedy. Dan satu lagi nilai tambah Jonru, yakni ketenaran atau paling tidak di jagat media social nama Jonru sangat dikenal

Bagi saya Jonru orang ngetop yang nyentrik. Sampai sekarang Jonru nggak bisa naik sepeda, Jonru belajar motor dibimbing tukang ojek ketika kuliah dan itu pun dilakukan dimalam hari, agar tidak diketahui temannya. Waktu menikah di Karo, saya satu-satunya temannya yang berangkat ke medan atas biaya sendiri dan ketika Jonru menikah di Jakarta saya jadi MC nya. Namun untuk urusan politik dan idealisme kami berbeda, saya menghargai jalan yang dia tempuh. Sebaga teman sesekali saya ingatkan dia agar setiap kritikan berdasar fakta, bukan asumsi, gossip atau kabar burung yang tak jelas sumbernya.

Semoga setelah membaca tulisan ini, Jonru berani tampil memperlihatkan kemampuan komedinya. Saya pun mendukung, karena saya juga menyukai dunia jenaka dan saya pernah menggelar ajang komedi reformasi tahun 2000 dengan satu diantaranya peserta grup Cagur, yakni Narji , Deni dan Bedu (sebelum diganti Wedhus eh Wendy,,,hehehe) yang kala itu masih kuliah di UNJ. Dan saya juga menjadikan stand up comedy sebagai ajang untuk melampiaskan dendam kesumat saya dalam berkomedi. Alhamdulillah saya juga pernah menjadi juara 2 Stand UP Comedy se Jawa Barat tahun 2016 simak videonya di https://www.youtube.com/watch?v=tbUtgVIwp3c&t=27s

Bersyukur karena saya, satu-satunya Komika Social Media yang diundang makan siang bareng Presiden di Istana.

Dudun Purbakala
Komika Sosial Media




Kamis, 03 Agustus 2017

Dapatkan E Book Stand UP REZEKI, INFAQ Seikhasnnya.

Kenapa Rajin Bekerja dan berdoa tapi kok Masih Miskin ?

Banyak orang taat ibadah dan rajin bekerja tapi kok tetap miskin ya? Tapi banyak yang gak ibadah tapi bisa kaya raya?
Sik sik sik, sebentar. kerja keras dan kekayaan itu bersanding, tapi tidak berhubungan. kerja keras itu kewajiban hamba, sedangkan rejeki itu area Tuhan. Tugas kita sebagai hamba hanya meminta, kemudian memantaskan diri untuk menerima yang kita minta. Kalau rezeki kita belum sesuai, syukuri dulu karena itu yang terbaik dari Tuhan. Tapi tetap dilanjutkan usaha dan doanya. Kalau hanya berdiam diri tanpa berusaha akan mencabut kepantasan kita untuk mendapat rezeki yang lebih besar.
Kalau ada orang yang jarang ibadah tapi dikasih rezeki lebih, itu bukti Tuhan Maha Pengasih yang tak pernah pilih kasih, karena Tuhan itu Maha Adil, yang tidak ibadah pun kalau dia bekerja keras maka tetap akan diberi rezeki.
Gimana sudah mudheng atau masih kepyur ?
Sik sik sik tak jelaske sik ya, rezeki itu ada 2
1. Rezeki yang baik atau barokah
Yaitu rezeki yang diperoleh dari cara yang benar atau halalan thoyiban. Indikatornya rezeki yang baik adalah, bertambah nilai manfaatnya, cukup untuk kebutuhan, menjadikan hati tenang dan bahagia. Misalnya dapat duit sebulan cuma sejuta ndilalah kok cukup, ada saja yang ngasih makanan ke rumah. anaknya sehat semua, dan nggak minta aneh-aneh,
2. Rezeki yang tidak baik atau istijrot
Namanya saja sudah jelek didengar istijrot yang makan bisa monjrot hehehe. reseki model gioni yang didapat dari cara yang tidak benar misalnya mencuri, korupsi, menipu dan sibiginyi. jumlahnya berlimpah oh pastinya. kalau orang Jawa dilulu, minta apa saja dikasih sam Allah. tapi sekali jatuh jeder ..masuk KPK.
Biasanya pemakan rezeki model begini, kaya raya secara materi berlimpah, tapi, keluarga amburadul, anak bermasalah, kena penyakit yang obatnya ratusan juta , atau penyakit aneh yg gak sembuh-sembuh. Hindari rezeki yg beginian kagak ada enaknya,

Diatas adalah cuplikan dari Buku Stand Up Rezeki karya Dudun Purbakala, yang akan Edisi perdana Hari Raya Idul Adha atau 1 September 2017. Jika Minat silakan Pre Order E Booknya dengan Infak seikhlasnya, 
Bonus :
E Book Menulis Dalam Kepala 
E Book Bocah Kuat (JUara 1 Novel Anak Keagamaaan Nasional)
Konfirmasi pemesanan WA 0813-10054310

INFAQ SEIKLHASNYA KE
Bank Mandiri Jakarta; 129000.460.3532 a/n Dudun Parwanto
BCA Jakarta 7401227974 an Dudun Parwanto