Sabtu, 22 April 2017

Inilah Bab 1 Novel Sacred Promise

1


1.       CINTA BERSEMI DI TAMAN HATI


Sore yang cerah ceria, matahari mulai menyingsing menuju pembaringannya. Bunga-bunga sapa tropika bertebaran tumbuh bersemi, menjadi saksi perjumpaan dua insan menjelang senja. Sepasang muda-mudi bertemu untuk membunuh waktu di tengah hijaunya rumput savana.  
                Zulfikar, pemuda dengan rambut sedikit gondrong melempar tasnya ke rerumputan. Zul, panggilan akrab wartawan berusia 27 tahun itu mendorong ayunan dimana seorang gadis jelita duduk manja diatasnya. Itulah gadis pujaan hatinya yang bernama Aisyah, atau disapa Isyah. Gadis itu duduk asyik dengan menikmati maju mundur ayunan sambil sesekali membetulkan kerudungnya. Ada peribahasa centil untuk menggambarkan dua insan berlainan jenis itu, “masa kecil kurang bahagia”, hehehe.
                Seperti biasa, setiap Sabtu sore, Zul menjemput Aisyah selepas mengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Sebelum pulang, mereka mampir bermain sebentar di sebuah taman yang elok. Gadis berusia 24 tahun, menjerit tatkala ayunan terdorong agak kencang. Zul tertawa cekikikan. Dengan berselimut kerudung abu-abu, Aisyah tampak anggun dan balutan batik hijau, seragamnya sebagai tenaga pengajar pendidikan sekolah Islam. Perempuan lulusan Pondok pesantren Lirboyo itu sudah setahun mengajar di Madrasah Ibnu Kholdun.
                Taman Hati adalah ruang terbuka hijau yang dikelola oleh Pemda Jakarta. Pemerintah Propinsi saat ini gencar menata kembali taman-taman kota menjadi lebih asri, rapi dan cantik. Ruang terbuka hijau memberikan manfaat bagi warga, karena sering digunakan sebagai tempat olahraga, nongkrong atau sekadar menghirup udara segar di tengah pengapnya polusi yang mendera sang ibukota.
                Tak jarang Taman Hati menjadi tempat favorit bagi kawula muda yang sedang dimabuk cinta, tak terkecuali dengan Zul dan Isyah. Dalam seminggu, dua atau tiga kali mereka menyempatkan untuk singgah sejenak di Taman Hati, dan baru pulang menjelang senja. Biasanya selepas deadline majalah, Zul menjemput kekasih hatinya dengan kendaraan roda dua. Jika tidak dijemput, Aisyah menggunakan jasa ojek online untuk pulang ke rumah.
                Pada hari libur Sabtu-Minggu, biasanya banyak masyarakat yang membawa anak-anaknya bermain di taman yang luasnya 3 hektar itu. Namun hari itu, hanya beberapa keluarga yang membawa anaknya bermain di Taman yang masih segar udaranya. Mungkin karena tanggal muda, maka sebagian besar keluarga memilih jalan-jalan di pusat keramaian. Mal merupakan tempat yang nyaman dan asyik untuk berbelanja, bermain dan makan bersama. Apalagi di Jakarta, puluhan mal berdiri megah untuk menampung warga ibukota yang ingin refreshing bersama keluarga.
                Lain dengan mal, lain pula dengan pula dengan perpustakaan atau museum. Dapat dikatakan museum dan perpustakaan adalah tempat paling sepi di dunia setelah kuburan. Hehehe. Padahal untuk masuk ke museum atau perpustakaan tarifnya murah bahkan gratis. Beda dengan mal yang mesti membawa uang banyak. Dilema memang. Pepustakaan dan museum menyediakan ilmu pengetahuan secara gratis eh malah sepi, sementara mal yang minim pengetahuan dan membayar pula malah ramai, Ini membuktikan bahwa budaya masyarakat untuk investasi kepala itu lebih sedikit ketimbang di perut.
                Ya begitulah. Kalau pun ke mal, maka yang dicari Zul dan Isyah biasanya ke toko buku, setelah itu pulang. Jika harus  makan, mereka memilih ke food court karena lebih banyak pilihan dan murah ketimbang restoran yang mahal-mahal. 
***

“Ibu kemarin telepon, tanya kapan saya merit,” ujar Zul serius sambil mendorong ayunan.
Ia ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya sejenak.
“Terus..” balas Aisyah .
Zul menghela nafas sejenak.
“Saya sih penginnya cepet-cepet melamar Aisyah hehehe “ jawab Zul.
“Terus kenapa mas nggak ngelamar….” Aisyah balik bertanya.
                Hmmm Zul merasa tertantang, sudah satu tahun mereka saling mengenal. Meski hanya bermain di taman atau kegiatan pengajian bersama. Zul tak pernah berduaan sendiri dan selalu mengajak Isyah di keramaian. Secara umur, Zul memang sudah cukup, apalagi Isyah pun tidak banyak menuntut. Inilah pertanyaan yang ditunggunya dari Aisyah, meski sebenarnya ia belum menyiapkan jawabannya.  
“Iya nunggu modal dulu, belum ada investor hehehe “ canda Zul.
“Modal kok ditunggu…..dicari kali, nanti malah keburu diambil sama investornya hihihi…”balas Aisyah agak menggoda.  
                Zul cemberut, lalu ia mendorong ayunan kuat-kuat. Aisyah teriak sambil memegang besi ayunan dengan erat. Gadis berhidung mancung itu ketakutan.
“Ah nggak Mas…. Bercandaaa,“ ujarnya kencang.
                Pemuda berbadan tinggi itu memelankan dorongannya sambil tersenyum. Dia kemudian membisikan sesuatu.
“Insyaallah nanti dilamar, sabar yaa ….”
                Zul mendatangi Aisyah, berdiri di depannya memegang tangan gadis berkulit putih bersih itu. Aisyah tertunduk, tersipu malu, sambil melepaskan tangan pemuda berkulit sawo matang itu.
“Semua akan indah pada waktunya…” ujar Aisyah penuh harap.
                Zul tahu maksudnya, lalu mundur sejenak, mengambil sebuah majalah dari tasnya. Aisyah sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan diberikan laki-laki jangkung itu. Ya, Majalah Reforma yang baru saja terbit. Aisyah membuka-buka isinya, membaca liputan apa yang ditulis oleh pemuda yang berhasil merebut hatinya. Tak banyak tulisan Zul yang mengisi edisi kali ini dan hampir semuanya berita yang ringan. Aisyah menatap pemuda keturunan Jawa itu.
“Dimarahin lagi sama pak Batubara?” tanya Aisyah.
Zul menggeleng.  
“Mungkin Senin nanti… “ ujar Zul.
Hari Senin adalah agenda rutin rapat redaksi mingguan majalah Reforma.
“Kenapa? ”
“Hmm entahlah…. Aku kayaknya nggak cocok jadi wartawan “ ungkap Zul bimbang.
                Laki-laki alumni Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang itu pun menceritakan keinginannya. Sebenarnya cita-citanya dulu masuk Fakultas Kedokteran, tapi sudah mencoba 2 kali ikut UMPTN, namun tidak tembus. Akhirnya namanya tercantum dalam mahasiswa baru jurusan Sejarah Undip. Beruntung Zul pada saat kuliah menjadi pengelola Koran Kampus Manunggal milik Universitas. Berbekal ilmu selama menjadi wartawan kampus itulah dia bisa melamar kerja menjadi wartawan majalah Reforma yang kini sudah dijalaninya selama 2 tahun.
“Aku ngerasa Wartawan itu seperti profesi buangan, setelah nyari pekerjaan lain nggak dapet-dapet, larinya ke wartawan…jadi kayak dubes hehehe, “ Zul curhat.
“Ah nggak juga, itu hanya perasaan Mas saja, semua profesi itu baik,” ucap Aisyah menenangkan.
“Aku mau mencari pekerjaan lain…yang lebih menjanjikan masa depan,” tegas Zul.
Aisyah menghela nafas. Bingung.
“Jalani saja apa yang ada, kalau memang bukan jalannya pasti nanti akan Allah bukakan. Tapi sebenarnya profesi wartawan juga menjanjikan kok, banyak kan wartawan yang berhasil dan masa depannya cerah,” Isyah mulai menghibur.
 “Aku merasa tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan di kantor. Sering gagal menembus nara sumber utama. Sementara teman seangkatanku waktu masuk, Rendi, sekarang sudah menjadi redaktur, “ Zul mulai blak-blakan.
Dari sorot matanya, Aisyah paham pemuda itu sedang galau.
“Kita hanya berusaha Mas, semua sudah ada yang ngatur. Aku yakin Mas Zul bisa kok jadi Redaktur, Mas Zul harus bisa buktikan itu …. demi karir Mas, “ nasehat Aisyah lirih.
“Bukan demi karir…demi masa depan Kita,” ucap Zul tersenyum dibalas senyuman dari bibir tipis Aisyah.
“Itulah yang aku suka dari kamu, bisa memahami dan memotivasi. Kamu ibarat bunga Cinta yang bersemi di taman Hatiku…” kata Zul.
“Ah mulai lagi deh sastrawannya  hihihi…”
                Zul mengambil sepotong bunga Matahari yang sedang berkembang. Diberikan bunga itu pada gadis di depannya. Aisyah tersipu melihat belahan hatinya yang sok romantis. Saking emosinya mereka kurang memperhatikan di sekitarnya. Beberapa anak kecil duduk diam menyaksikan sepasang merpati sedang merangkai hati. Bocah-bocah itu tertegun sambil menunggu untuk bermain ayunan. Saking fokusnya, Zul kurang memperhatikan jika mereka menjadi tontonan anak-anak. Zul menyelipkan bunga itu di jepitan pita jilbab gadis manis itu. Lalu dia mengambil HP untuk memotret gadis manis itu. Aisyah tersenyum. Jepret…
“Cantiknya kakaaak…” tiba-tiba seorang anak kecil bertubuh gendut menyahut.
                Temannya yang lain bersorak dan sebagian tepuk tangan. Sepasang muda -mudi itu bukan main terkejutnya dan merasa malu dikelilingi anak-anak. Zul dan Aisyah kikuk.
“Kak gantian dong dari tadi kami nungguin main ayunan…”ujar gadis kecil yang lugu.
                Mereka berdua segera mempersilakan anak anak itu bermain ayunan. Anak-anak itu pun langsung berebutan. Aisyah mengajak Zul pulang, malu. Mereka menunduk melewati beberapa orang yang seolah memperhatikan tindak tanduk mereka.
                Tak jauh dari mereka nampak seorang lelaki tua yang duduk bersama istrinya yang sudah berumur. Mereka berpegangan tangan memperhatikan sepasang insan muda itu sambil menggelengkan kepala. Dua sejoli itu lewat di depan orang tua itu sambil tersenyum. Lelaki tua itu membalas dengan senyuman yang dipaksakan sambil mengangkat kaca matanya.
“Memang betul, kalau anak muda sudah dimabuk cinta…dunia serasa milik mereka berdua ” ujar kakek menggeleng.
“Iya Pa yang lain ngontrak, jadi ingat jaman kita masih muda dulu….” sahut nenek.
“Ah, Mamah waktu muda nggak secantik itu …” jawab kakek.
Lalu nenek mencubit paha kakek membuat pria tua itu menjerit kesakitan.
“Iyalah kalau nenek secantik itu nggak mungkin dapat kakek …” umpat si Nenek.
Kakek pun nyengir.
***

Sedari Taman Hati, Zul mengantar Aisyah pulang. Mereka sampai di rumah menjelang bedug Magrib bergema. Rumah Aisyah cukup besar dengan taman yang asri di halaman depan. Pohon palem yang tumbuh subur di depan rumah ikut memperteduh pengguna jalan. Isyah turun dari motor dan membuka pagar. Zul menunggu di pintu pagar dan menatap wanita bertubuh sedang itu masuk ke dalam rumah. Pagar rumah Aisyah terbuat dari teralis besi sehingga Zul bisa memastikan kekasihnya sampai di depan pintu dan masuk ke rumah dengan sempurna. Aisyah melambaikan tangannya, tersenyum tipis lalu masuk menutup pintu. Zul masih diam memandang. Lagu anak singkong yang mencintai putri salju selalu menghantuinya. Maklum Aisyah anak orang kaya, sedangkan dia orang tak punya. Tiba-tiba bunyi klakson mobil menggugurkan lamunannya.
“Tiiiiiinnnn”
                Mobil putih susu milik Haji Murod, ayah Aisyah, tak diduga sudah ada di belakangnya. Zul pun meminggirkan motornya, lalu membukakan pintu pagar. Haji Murod membuka jendela mobil. Wajahnya dingin, seperti es di kutub utara. Tapi matanya tajam, laksana pedang yang baru dibeli lalu diasah, Sang sopir, Pak Mamat, lalu memasukkan mobil ke halaman. Zul menganggukkan kepala, mencoba untuk menyapa dengan senyuman. Tapi Haji Murod malah melebarkan bibirnya, sebuah senyum yang dipaksakan dan tidak ikhlas.  
 “Hmmm kamu cocoknya jadi penjaga rumah” kata Haji Murod sinis.
Zul berusaha tegar dan tetap tersenyum, meski hatinya terasa nyesek. Mobil pun masuk, Zul menutup pintu lagi.
“Penjaga rumah pulang dulu Pak… Wassalamualaikum,” katanya lirih.
Haji Murod mendengarnya dan kini benar-benar tersenyum ikhlas. Lega rasanya mendengar Zul membuat pengakuan.
Zul menstarter motornya. Pulang.
***

Haji Murod masuk ke dalam rumah, Aisyah tengah membaca majalah yang diberikan Zul di sebuah sofa berwarna jingga. Haji Murod mengucap salam dan dibalas putrinya.
“Majalah lagi…Majalah lagi” ujar haji Murod sambil berjalan.
                Lelaki tambun itu bosan melihat Aisyah membaca majalah Reforma. Aisyah tidak heran dengan ucapan ayahnya. Kalimat yang sudah biasa didengar, sehingga Aisyah tak merasa perlu meresponnya. Setiap akhir pekan, Zul selalu memberi majalah Reforma kepada Aisyah, sehingga haji Murod sudah hafal kebiasaan itu.
“Jangan-jangan nanti dia ngelamar kamu, maharnya majalah heheh…” sindir Haji Murod yang duduk tak jauh dari anaknya.
“Ah Papa jangan gitu amatlah…” ujar Aisyah jengkel.
                Istri Haji Murod, Nurjanah sedang menonton teve, memperhatikan suaminya yang duduk melepas kaos kaki.
“Papa dari mana saja?” tanya Nurjanah.
“Ya biasalah Ma kegiatan Papa kan seabrek, ngurus Yayasan, datangin undangan jamaah. Ohya, Papa lagi buat anggaran ke Kemenag untuk minta bantuan anggaran pembangunan gedung As Salam…”
Nurjanah menggeser duduknya dekat suaminya.
“Gimana kabar Pesantren kita, saya dengar santri banyak yang mundur ?”
“Ya namanya juga sekolah, ada yang masuk dan keluar itu biasalah”
                Nurjanah duduk merapat lagi ke sebelah suaminya, agar Isyah tidak mendengar. Tapi Isyah tahu diri, diapun segera bangkit dan masuk kamar.
“Tadi pagi Mbok Ginah ke rumah, memberi tahu anaknya mau dipindah ke pesantren lain. Katanya tidak sanggup membayar iuran santri yang baru. Apalagi suaminya sudah tidak ada. Apa sebaiknya tidak digratiskan saja anak orang tidak mampu seperti Mbok Ginah?”
“Hmmm, gratis, kayaknya saya membesarkan Pesantren bukan untuk itu. Guru perlu digaji, beli buku, peralatan menulis….semua perlu uang.” tegas haji Murod.
“Kan bisa subsidi silang Yah…” ujar Nurjanah.
“Ah itu tidak mendidik, kita harus lprofessional..” jawab Haji Murod.  
“Tapi dulu waktu dikelola Abah santrinya banyak, sekarang kenapa malah menyusut?”
“Itu namanya seleksi alam, hanya orang yang ingin maju yang bisa bertahan. Ndak apa-apa saya lebih mementingkan kuantitas dibanding kualitas, ” Jawab Haji Murod.
                Jawaban itu tidak memuaskan Nurjanah, wanita paruh baya itu sewot. Haji Murod lalu masuk ke dalam kamar.
                Haji Murod dulu seorang pengusaha konveksi, namun usahanya bangkrut. Setelah ayah Nurjanah, Abah Bakar meninggal, Haji Murod diminta meneruskan Yayasan as Salam, sebuah yayasan yang mengelola pesantren, majelis taklim dan pemberdayaan anak kurang mampu. Namun setelah dipegang Haji Murod, 2 tahun silam, pesantren lebih fokus pada pendidikan sedangkan pemberdayaan anak kurang mampu kurang diperhatikan. Akibatnya banyak anak kurang mampu terpaksa mundur, karena tidak sanggup membayar biaya yang dibebankan. Dulu anak kurang mampu diberdayakan sehingga menghasilkan uang untuk pemasukan yayasan. Sekarang hanya anak orang mampu yang bisa mengikuti pendidikan di pesantren As Salam. Sakibng mahalnya.  
                Padahal ketika yayasan dikelola Abah Bakar, santrinya sangat banyak dan hampir separuhnya tidak membayar biaya pendidikan. Santri-santri yang tidak mampu diberdayakan untuk membuat kerajinan tangan, ketrampilan atau menanam pohon yang hasilnya untuk membiayai pendidikan mereka. Itulah yang membuat Nurjanah prihatin, karena perkembangan Pesantren tidak sesuai dengan cita-cita awal saat kakeknya mendirikan Yayasan, yakni untuk bermanfaat bagi umat. Nurjanah hanya  mengingatkan suaminya agar kembali ke khittah, namun nampaknya usahanya belum mendapat tanggapan yang baik. 

###






Kamis, 20 April 2017

Makna Religi & Kehidupan dalam Tembang Macapat



Tembang Macapat merupakan salah satu kelompok tembang yang sampai saat ini masih diuri-uri (dilestarikan) oleh orang Jawa. Ada sebelas tembang dalam macapat, masing-masing memiliki karakter dan ciri yang berbeda, memiliki wataknya sendiri, dan memiliki aturan-aturan penulisan khusus dalam membuatnya.
Di Jawa Tengah, khususnya Solo tembang-tembang macapat banyak digunakan dalam serat-serat dan kasusastran (karya sastra) jawa. Serat-serat tersebut berisi tentang berbagai ajaran budi pekerti, dongeng, cerita wayang, permainan, bahkan berisi doa dan mantra. Kata-kata yang banyak digunakan dalam tembang macapat sebagian besar merupakan bahasa jawa anyar (jawa baru) yang disisipi dengan bahasa jawa kuna.
Banyak tafsir terhadap asal-muasal kata macapat. Ada yang berpendapat berasal dari kata ”mocone papat papat” (membacanya empat empat), ada yang menafsirkan dari kata Maca Asipat (Membaca sifat manusia), dan ada juga yang berpendapat Janmo Koco Asifat (cerminan sifat manusia).
Tembang macapat diyakini sebagian besar orang jawa sebagai kelompok tembang yang memiliki makna proses hidup manusia, proses dimana Tuhan memberikan ruh-Nya, hingga manusia tersebut kembali kepada-Nya. Sifat-sifat manusia sejak lahir hingga kematiannya digambarkan dengan runtut dalam sebelas tembang macapat.
Adapun sebelas tembang macapat yang kaya makna tersebut diantaranya :

Tembang Macapat Maskumambang
Maskumambang menjadi pratanda dimulainya kehidupan manusia di dunia, tembang macapat ini memberi gambaran tentang janin dalam kandungan ibu ketika sedang hamil. Arti kata Maskumambang sendiri banyak yang memaknai sebagai emas yang terapung (emas kumambang), juga sering disebut sebagai maskentir (emas yang terhanyut).

Tembang Macapat Mijil 
Awal hadirnya manusia di dunia ini digambarkan dalam tembang Mijil yang berarti seorang anak terlahir dari gua garba Ibu. Kata lain dari mijil dalam bahasa jawa adalah wijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang berarti keluar.

Tembang Macapat Kinanti
Kinanthi banyak diyakini berasal dari kata dikanthi-kanthi (diarahkan, dibimbing, atau didampingi)

Tembang Macapat Sinom
Dalam bahasa jawa Sinom bisanya digunakan untuk menyebut daun asam yang masih muda, beberapa kalangan mengartikan Sinom sebagai si enom, isih enom (masih muda). >> Baca selengkapnya : Macapat Sinom, Bicara Remaja yang Menggelora

Tembang Macapat Asmaradana
Macapat Asmaradana merupakan salah satu tembang yang banyak menggambarkan gejolak asmara yang dialami manusia. Sesuai dengan arti kata, Asmaradana memiliki makna asmara dan dahana yang berarti api asmara.

Tembang Macapat Gambuh
Jika merujuk dari Bausastra Jawa, Gambuh berarti kulina (sudah terbiasa), wis lantih (sudah terlatih), namun ada juga yang memaknai Gambuh sebagai sebuah kecocokan (dari kata “jumbuh”).

Tembang Macapat Dhandanggula
Dhandhanggula berasal dari kata dhandhang yang berarti burung gagak yang melambangkan duka, dan dari kata gula yang terasa manis sebagai lambang suka. Kebahagiaan dapat dicapai setelah sebuah pasangan dapat melampaui proses suka-duka dalam berumah tangga

Tembang Macapat Durma
Sifat-sifat buruk digambarkan tembang macapat Durma. Durma bagi beberapa kalangan diartikan sebagai munduring tata krama (mundurnya etika), namun ada juga yang berpendapat berasal dari kata Derma yang berarti suka berbagi rejeki pada orang lain.

Tembang Macapat Pangkur
Pangkur yang juga berarti mungkur (mundur/mengundurkan diri), memberi gambaran bahwa manusia mempunyai fase dimana ia akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa atau spiritualnya.

Tembang Macapat Megatruh
Megatruh merupakan salah satu tembang macapat yang menggambarkan tentang kondisi maunisa di saat sakaratul maut. Kata megatruh sendiri dipercaya berasal dari kata megat/pegat (berpisah) dan ruh, yang artinya berpisahnya antara jiwa dan raga.

Tembang Macapat Pucung
Badan wadag yang telah ditinggalkan oleh ruhnya biasanya akan dirawat dan disucikan sebelum ia dikembalikan dari asalnya yaitu rahim ibu pertiwi (tanah). Jasad akan dimandikan dan dibungkus dengan kain mori putih sebagai lambang kesucian tau dipocong.


Selasa, 18 April 2017

Dunia di sisi Alloh lebh hina dari bangkai kambing disisi pemilknya

Nasehat Penuh Hikmah Lukman pada Anaknya

Surat Luqman adalah surat ke 31 dalam al Quran. Nama Luqman diambil dari kisah Luqman dalam mendidik anak. Siapakah Luqman sehingga namanya dijadikan nama surat dalam al Quran?
Luqman adalah seorang ahli hikmah yang terkenal dengan nasehat-nasehatnya. Ia adalah seorang budak dari Habsyah yang berkulit hitam. Dengan rahmat Allah akhirnya ia menjadi Hakim. Dalam beberapa riwayat Alloh Swt memberikan pilihan kepadanya untuk menjadi Raja atau Hakim. Namun Luqman tidak silau dengan kemewahan dunia. Luqman menjawab tidak mau menanggung musibah dengan menerima tawaran itu.

Kemudian Alloh mengaruniakannya dengan ilmu hikmah. Hikmah dan nasehat Luqman tercatat dalam al Quran dan hadits. Luqman akhirnya duduk sebagai seorang Hakim. Suatu ketika ada seorang laki-laki bertanya kenapa seorang budak bisa mendapat kedudukan yang tinggi. Lukman menjawab “Beberapa hal yang telah saya lakukan bersungguh-sungguh, yaitu takut kepada Alloh, berkata benar, menunaikan amanah dan menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia. “

Nasehat-nasehat bijak Luqman antara lain “Wahai anakku , berharaplah hanya kepada Alloh dan takutlah kepada Alloh serta jangan berputus asa dari rahma Nya. Anakku jika setan mencoba menimbulkan keraguan dalam hatimu maka lawanlah dengan keyakinan. Apabila setan membuatmu malas beramal soleh maka atasilah dengan mengingat mati, dan jika setan menarik perhatianmu dengan kesenangan dunia, maka beritahukanlah dunia pasti akan berakhir..”

Ketika Luqman hendak meninggal dunia, ia berkata pada anaknya’ “Aku akan member enam nasehat yang terakhir 1) sibukan dirimu dalam urusan dunia sekedarnya saja, dibandingkan dengan akherat lamanya tak seberapa 2) Hendaklah kamu beribadah kepada Alloh sekadar kamu berhajat pada Nya. 3)Buatlah persiapan akan akherat 4)Berusahalah agar dirimu terlepas dari siksa neraka 5)Beranikan berbuat dosa, kalau kamu sanggup berada dalam neraka 6)Apabila kamu hendak melakukan dosa carlah tempat dimana Alloh dan malaikatnya tidak melihatmu..”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda “Dunia adalah rumah orang yang tidak ada rumah di akherat, dan dunia merupakan harta bagi orang yang tidak berharta di akherat. Dan siapa yang tidak berakal sama sekali itulah orang yang mengumpulkan harta untuk dunia.
Dunia itu seperti wanita penipu, dia menghiasai dirinya untuk peminat-peminatnya, apabila mereka terperangkap maka ian mengkhianati mereka dan menjerumuskannya. Rasulullah Saw mengatakan “Dunia di sisi Alloh lebh hina dari bangkai kambing disisi pemilknya.” Rasulluah merasa heran dengan orang yang beriman, yang mengetahui akherat adalah kekal namun dia berusaha untuk meraih dunia. “

Suatu ketika, rasulullah bertanya kepada Abu Hurairah ra bersabda , “Maukah aku perlihatkan hakikat dunia kepdamu?” Ya kata Abu Hurairah.

Lalu Rasulullah bersama Abu Hurairah pergi ke tempat pembuangan sampah diluar kota Madinah. Di tempat itu berserakan benda-benda termasuk tengkorak manusia , tulang belulang dan sebagainya. Rasulullah Saw bersabda “ Abu Hurairah, ini adalah tengkorak manusia , dulu otak didalamnya bercita-cita dan tamak serta menaruh harapaa kepada dunia seperti kamu hidup sekarang. Hari ini ia terguling tanpa kulit. Sebentar lagi ia akan menjadi tanah. Kotoran ini berasal dari berbagai jenis makanan yang telah diusahakannya dengan susah payah, lalu dimakan. Kini ia terletak disini dalam keadaan menjijikan. Kain-kan yang koyak ini adalah pakaian yang indah dan mahal, dan orang merasa bangga memakainya, Hari ini angin menerbangkannya ke sana kemari. Tulang-tulang ini adalah hewan yang manusia pernah bangga menungganginya…Jadi siapa yang tidak menangis melihat keadaan mereka saat ini….menangislah sambil melihatnya…  



Jumat, 14 April 2017

Jalan Dakwah itu Berat, Kalau Ringan namanya Jalan-Jalan


Assamualaikum wr wb.

Usia bumi kita ini sudah puluhan miliar, namun kondisi bumi makin hari makin rapuh, Ada kabar dari NASA bahwa 19 April 2017 nanti ada asteroid atau benda luar angkasa berdiameter 3 km akan menembus bumi. Ini membuktikan bahwa ketahanan bumi menghadapi benda luar angkasa semakin berkurang. Dulu atmosfer yang melapisi bumi mampu menahan atau memecahkan benda asing yang masuk, tapi kini benda asing sebagian sudah melewati atmosfer. 

Kondisi bumi memang sudah tidak seimbang. Musim di Indonesiahingga tahun 1990-an terbagi dua yakni musim panas dan musim hujan yang masing2 berjalan selma 6 bulan. Namun kini dunia tak mengenal lagi musim, bisa jadi siangnya panas terik, malamnya hujan deras. Bisa jadi siang hari tanah kering, malamnya tergilas banjir. Ini akibat kerusakan ekosistem, mulai dari efek rumah kaca, penebangan hutan. pembangunan pemukiman, pabrik-pabrik dan sebagainya.

Namun bila kita telaah dari tinjauan spiritual, bencana alam dan ketidakseimbangan dunia disebabkan karena manusia sudah jauh dari agama. Ketaatan kepada Alloh berkurang sementara kemaksiatan merajalela. Manusia selain membuat kerusakan di muka bumi secara lahir juga melakkan kerusakan secara batin. Manusia sudah banyak yang menyekutukan Alloh, banyak yang melanggar perintah Alloh dan melaksanakan larangannya.

Di era sosial media ini, kebencian semakin menjadi-jadi. Fitnah merajalela dan menyakit cinta dunia marak di mana-mana. Harta, tahta dan jabatan masih menjadi tujuan utama sebagian besar umat. Mereka rela melakukan segala cara untuk menggapai syahwat duniawi dan jasmani. Sementara untuk kebutuhan rohani , kebaanyakan lalai atau hanya berkorban sedikit. Sifat cinta dunia ataa wahn inilah yang menyebabkan orang takut mati dan tidak menyiapkan bekal setelah mati.

Padahal Alloh menciptakan jin dan manusia tujuannya adalah untuk ibadah kepada Alloh. Kalau manusia melakukan sesuatu dengan selain tujuan itu, berarti ia telah melanggar perintah Alloh. Dan jika Alloh murka maka azab di dunia maupun di akehrat bisa terjadi. Banyaknya bencana dan kacaunya kondisi bumi tidak lain adalah bentuk teguran atau peringatan dari Tuhan untuk segera kembali ke jalan yang benar yakni jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.

Para Nabi diutus untuk berdakwah. Dakwah adalah mengajak manusia untuk taat kepada Alloh. Namun kini Nabi sudah tidak ada lagi, dan dakwah ini menjadi tugas manusia seperti Firman Alloh yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS : Ali Imran, 104)

Jalan dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad tidak hanya berat, tapi berat sekali. Tapi atas perjuangan, semangat dan kesabaran rasulullah saw mampu merubah Madinah yang gelap menjadi bercahaya, mampu merubah Mekah yang jahiliah menjadi diberkahi Alloh. Dan Rasulullah mampu mengajak 124 ribu umat menyembah kepada Alloh. Dan berkat dakwah para sahabat Islam sampia ke Indonesia dan kini menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Jalan dakwah itu berat, kalau tidak berat berarti kita salah jalan. Karena berat maka hanya orang2 yang dipilih Alloh yang bisa melaksanakannya. hanya orang-orang yang mendapat hidayah yang mau mengambil alih tugas para Nabi. Mereka rela mengorbankan waktu, jiwa, uang dan keluarga untuk berjuang agara agama Alloh tegak dimuka bumi. Mereka percaya bahwa barangsiapa membantu agama Alloh, maka Alloh akan membantu seluruh masalahnya di dunia dan di akherat. 




Senin, 10 April 2017

Haji itu ke Tanah Suci, Kalau ke Tanah Abang...Dagang (Video Stand Up Religi)

Assalamualaikum wr wb


Haji itu ke tanah suci, kalau ke tanah abang itu namanya dagang. Berangkat haji itu wajib bagi yang mampu, kalau belum mampu ke tanah abang dulu, dagang. Haji itu, niatnya ibadah, kalau ke tanah abang niatnya dagang.

Disebut tanah suci itu bukan karena tanahnya nggak pernah batal wudhu, tapi kalau kena najis  wudlu lagi. Tanah suci itu di mekah, kalau di Indonesia itu tanah air. Disebut tanah air karena di dalam tanah banyak airnya, kalau tidak ada airnya namanya tanah abang, dagang.

Berangkat haji di Indonesia itu lama, belasan tahun, Bahkan ada yangantreampai 42 tahun. Kebayang nggak kalau umur 60 tahun baru daftar haji, berangkatnya bukan ke tanah suci tapi ke hadirat ilahi Robbi, Nanti di Indonesia itu bayi baru lahir selain didaftarkan akte kelahiran juga daftar naik haji.

Dulu di Mekah itu ada tempat namanya pasar seng, saya pikir jualan material kayak seng, asbes, eh ternyata jualan oleh-oleh .kalau ada yang naik haji tetangga pada nitip oleh oleh, kalau mau ngirit beliin tasbih saja, satu tasbih ka ada 33 keping, beli 3 tasbih cukuplah buat se RT.

Biasanya sebelum berangkat haji banyak yang nitip doa, Waktu itu saya sediakan satu buku supaya mereka nulis sendiri, Permintaan nya macam-macam hingga buku saya penuh

Tuhan kan Maha mengetahuo, Waktu di Arofah saya berdoa  sambil membawa buku itu “ya Allah kabulkanlah semua doa yang ada dalam buku ini”
Kalau  belum mampu ke Pondok Gede dulu saja

Haji itu ada macam-macam
Haji Basri, Bayar Sendiri , Haji Abidin, Atas biaya dinas
Haji Kosasih, Ongkosnya Dikasih , Haji Komariah, Korupsi proyek pemerintah, 
Haji  Cibubur, Cie ada Tukang Bubur Naik Haji

  https://www.youtube.com/watch?v=BqtW1pPBD7g&t=1s

Jumat, 07 April 2017

SITKOM : Kamingsun, Lurah Budiman

BACKGROUND STORY
Menjadi Lurah tak pernah ada dalam bayangan Kamingsun. Sebagai anak perantau dari Jawa, lulusan SMA pula, Kamingsun awalnya menjadi pegawai honorer di kelurahan Tanah Kosong, pinggiran Jakarta. Itu pun diajak kakaknya Jarwoto yang jadi sekretaris lurah di Tanah Tinggi, sebelahan sama Tanah Kosong. Jarwoto menitipkan Kamingsun pada Dolalah , sekretaris lurah karena kebetulan di Tanah Kosong ada lowongan honorer kelurahan. Tugasnya apa saja, kadang ngetik, nganter surat, moto copi dan sebagainya. Pokoknya srabutanlah dan siapapun bisa menyuruh Kamingsun layaknya “pembantu”.   


Cita-cita Kamingsun nggak muluk-muluk. Ia ingin agar hidupnya lebih baik dari orang tuanya yang hanya sebagai sopir becak di Solo. Itu saja. Maka selepas SMA, Kamingsun ikut kakaknya merantau ke Jakarta. Untuk merubah nasib, maka ia memaksakan diri kuliah pada malam hari.  Dengan berdarah-darah, akhirnya Kamingsun menuntaskan kuliahnya selama 5 tahun. Pada saat yang sama ada penerimaan CPNS di Pemprov DKI dan beruntung Gubernur DKI membuat kebijakan memprioritaskan sarjana yang sudah pernah mengabdi sebagai pegawai honorer untuk diterima sebagai PNS. Namun Kamingsun pertama kali diterima malah jadi pegawai rendahan yakni menjadi petugas TU atau Tata Usaha di Balaikota.
Tiga tahun menjadi TU dengan gelar sarjana kesannya agak gimana gitu. Tapi Kamingsun yang polos menjalaninya dengan ikhlas. Suatu ketika Kamingsun menemukan uang Rp 100 juta bantuan Gubernur yang tertinggal di kantor. Malang tak dapat ditolak, Untung tak dapat diraih. Setelah kejadian itu viral di media sosial, Gubernur pun memanggilnya. Gubernur heran karena Kamingsun ternyata seorang sarjana. Diapun meminta Kamingsun ikut seleksi jadi Lurah. Akhirnya Kamingsun lolos seleksi. Tapi karena dia tidak punya pengalaman yang cukup, maka Kamingsun  ditempatkan di kelurahan dengan grade paling bawah di Jakarta yakni Tanah Kosong. Kamingsun kaget karena itulah tempat dimana dia pernah sebagai tenaga honorer.
Jamak dalam masyarakat ada Pomeo tak orang ada yang mau jadi lurah di Tanah Kosong, kecuali kepepet. Tanah Kosong adalah kelurahan paling “horror” di pinggir Jakarta. Selain pemakaman yang disinyalir banyak hantu, juga Rawan pembegalan, Café malam, dan banyak pengangguran, karena warganya rata-rata orang gusuran yang malas. Para pemuda tempatan memilih menjadi ojek pangkalan, tukang parkir, dan preman pasar karena mereka merasa sebagai yang punya wilayah. Sementara pemuda pendatang menjadi pemulung, tukang gali kuburan dan ojek online.  Nah ojek pangkalan dan ojek online ini sering bentrok. Tawuran massal juga sering terjadi antara kampung orang tempatan Kebon Kosong dan kampung pendatang di Rawa Ompong karena masalah sepele.
Kehadiran Kamingsun sebagai lurah di Tanah Kosong mendapat sambutan yang kurang ramah dari aparat kelurahan. Mereka tak percaya, Kamingsun yang 3 tahun lalu masih lugu dan mereka suruh-suruh tiba-tiba menjadi Pimpinan kelurahan yang akan menyuruh mereka. Apalagi Kamingsun tahu persis permainan yang ada di kelurahan itu. Mereka tidak takut pada Kamingsun, tapi takut kalau perbuatan mereka dilaporkan Kamingsun ke Gubernur. Mereka menyambut kehadiran Kamingsun dengan setengah hati.
Kamingsun menjadi lurah dengan segudang masalah. Setiap berganti lurah , kata-kata yang keluar selalu tidak betah. Bahkan beberapa terkena stroke karena banyaknya masalah yang menggunung. Lurah di Tanah Kosong, dianggap buangan seperi Dubes hehehe. Desa yang miskin karena tidak banyak retribusi. Masukan yang paling besar adalah pemakaman yang luas milik Pemda dan tempat pembuangan sampah yang akan menjadi kelas nasional. Sesuai namanya, di Tanah Kosong masih banyak lahan yang kosong. Nah kadang ini yang menggoda aparat. Bahkan Lurah sebelumnya terpaksa diganti masalah lahan kosong yang dijual illegal ke pengembang.
Di Kelurahan pun budaya pungli masih menjamur, padahal rata-rata PNS yang gajian tiap bulan. Budaya ini dikomandani oleh Sekdes Dolalah, pria paruh baya keturunan Betawi. Meski ada Lurah, namun aparat kelurahan lebih takut pada Sekdes Haji Dolalah ketimbang Lurah. Ia orang tempatan,  senior dan sudah 20 tahun jadi Sekdes. Orang bialng Sekdes Abadi. Apalagi dia merasa, kalau tidak ada dia, Kamingsun tidak akan jadi lurah seperti sekarang. Itulah yang membuat Kamingsun rada segan.
Kamingsun pernah menjadi tenaga honorer dan dipercaya oleh pemprov DKI untuk mengomandani kelurahan Tanah Kosong. Kalau boleh memilih Kamingsun pilih kelurahan lain, pokoknya selain Tanah Kosong. Kamingsun tahu persis seperti apa kehidupan di masyarakat Tanah Kosong. Namun mungkin karena dia tahu lapangan, maka Pemprov menugaskannya membenahi kelurahan yang amburadul. Maka Kamingsun menganggap penugasannya sebagai amanat dan tantangan, atau dalam bahasa agama disebuh Ibadah. 
Maka misi pertama Kamingsun adalah reformasi birokrasi.
Pertama kali yang dilakukan Kamingsun justru bukan melarang para aparat kelurahan melakukan kebiasaannya yang salah. Dia membiarkan praktek itu berlangsung, sepanjang dia tidak melihat langsung. Karena minggu pertama Kamingsun di kantor saja, tak ada pegawai yang berani macam-macam. Pakdhe Ranto yang biasanya terus terang mengutip masyarakat saat membuat surat atau KTP, tiba-tiba berubah dan mengembalikan uang yang diberikan warga. Ini malah membuat warga jadi bingung dan heran.
Minggu kedua, waktunya Kamingsun blusukan seharian. Jam 9 ke kantor lalu keluar menemui penduduk dan baru pulang sore jam 3. Kamingsun meniru Jokowi untuk mengetahui masalah di lapangan ditemani Gudel dan Bang Togar. Nah selama seminggu, Kamingsun nggak ngantor aparat sumringah. Praktek lama kembali beroperasi. Warga kaget karena minggu kemarin tidak ada pungutan, sekarang kok ada lagi. Aparat kelurahan pun menjawab sekenanya. Dan sebelum jam 3, Kamingsun kembali ke kelurahan, tapi sebagian besar pegawai sudah pulang. Namun Kamingsun sudah tahu apa yang dilakukan aparat dari warga yang melapor ketika ia blusukan.
Minggu ketiga, Kamingsun kali ini tanpa pemberitahuan, pagi pergi tiba-tiba siang nongol di kantor. Ini yang membuat aparat ketar ketir. Dan yang terjadi terjadilah. Dia menangkap basah  Pakdhe Ranto menerima pungli. Kamingsun pun memanggil ke ruangannya. Semua aparat diam. Pakdhe Ranto panas dingin. Kamingsun tidak marah, hanya membacakan pasal-pasal pelarangan pungli. Termasuk peraturan presiden yang membentuk saber pungli. Kamingsun menceritakan berapa banyak di Balaikota yang ketangkap basah dan akhirnya dimutasi, bahkan sampai dipecat. Cerita itu sudah cukup membuat Pakdhe Ranto lunglai.
 “Jangan takut kepada saya, nanti suatu saat saya pergi dan tidak jadi lurah disini, tapi takutlah kepada aturan karena itu sanksi dunia dan takutlah kepada Tuhan karena ia Maha melihat yang akan memberi sanksi akherat. “ Nasehat Kamingsun.
Kamingsun tidak marah atau menegur pakdhe Ranto, dia hanya mengingatkan karena sayang pada pakdhe Ranto. Pakdhe Ranto menangis dan meminta maaf serta berjanji tidak ingin mengulangi perbuatannya. Sejak itu sikap pakdhe Ranto berubah 180 derajat. Memberi pelayanan gratis tanpa pungli. Akibatnya Tulkiyem, istri pakdhe Ranto yang selama ini suka nge mol dan nge mil harus mengingat pinggangnya dan sering berantem di rumah karena setelah itu hanya makan gaji bulanan pas-pasan.
Hal ini membuat 3 kasi yang lain, tidak senang dengan sikap pakdhe Ranto. Makan nasi kotak tiap siang yang biasa diambil dari pungli tidak ada lagi. Haji Dolalah yang biasa kesana kemari dengan pakdhe Ranto pun mulai kehilangan partnernya. Suatu ketika Haji Dolalah marah ketika ada pengembang besar yang deal akan membuat perumahan tiba-tiba tidak disetujui oleh Kamingsun karena masalah administratif. Dolalah lalu mengungkit-ungkit jasanya pada Kamingsun. Kalau sudah begitu Kamingsun memilih diam.
Kamingsun tidak marah atau pun menegur Haji Dolalah yang menceramahinya habis-habisan. Lurah muda itu tahu cara menangani Dolalah dengan pakdhe Ranto berbeda. Kamingsun tahu satu-satunya orang yang bisa menasehati Dolalah adalah Abah Acum, ayah Dolalah. Abah Acum memang menghadapi dilema, disatu sisi Dolalah sering mendapat persenan sebagai makelar tanah yang cukup besar, dan sering membantu yayasannya. Namun dia sadar yang dilakukan anaknya adalah subhat, sebagai seorang pendakwah dia punya kewajiban warga untuk mengajak kebaikan dan mencegah keburukan. Abah Acum berjanji menasehati Haji dolalah secara pelan-pelan. Proses ini berjalan agak setengah-setengah.
Bagaimana cara Kamingsun menaklukkan bu Jujuk, yang getol menjodohkan anaknya dengannya. Nah Bu Jujuk ini kerjanya ngumpulin anggaran. Kamingsun mendorong untuk mendapat dana dari propinsi. Kamingsun melarang para pengusaha untuk memberi sumbangan. Para pengusaha yang selama ini ditarik dana menjadi senang, tapi mereka diminta untuk membina para pengangguran agar punya usaha produktif.
Sejak itu Bu Jujuk kehilangan keran uangnya. Dia pura-pura manis di depan Kamingsun, tapi punya niat jahat untuk menjatuhkannya. Cak Kholil juga meradang, karena dana bantuan orang miskin sekarang tidak lagi dipegangnya. Dulu orang miskin datang ke kelurahan menerima bantuan uang dan beras. Sekarang Kamingsun turun ke bawah membagikan sendiri bantuan tunai dan beras tanpa potongan.
“Itu pencitraan” teriak Cak Kholil.
Satu-satunya orang yang tidak disentuh adalah Mang Dadang, seksi ketertiban umum. Karena tidak disentuh sama sekali mang Dadang sangat pro Kamingsun. Kamingsun butuh dukungan Mang Dadang jika berhadapan dengan 4 pejabat kelurahan. Mang Dadanf membela saja entah lurah benar atau salah. Mang Dadang punya pengaruh kuat karena kakaknya Mang Kobar orang yang paling ditakuti di kampung. Tapi karena ada desakan tokoh agama, Kamingsun meminta Café tutup jam 11 malam dan tidak ada prostitusi. Permintaan itu disanggupi oleh Mang Dadang dan Mang Kobar. Meski kadang masih ada juga praktek asusila terselubung.
Sikap ini dianggap mendua atau diskriminatif, sehingga Abah Acung sering mengajak jamaahnya mendemo Lurah. Tapi demo ini ditunggangi kepentingan politik dari tujuan awalnya penutupan Café menjadi penurunan lurah. Kamingsun berjanji akan menyampaikan tuntutan penutupan Café ke pak Camat karena yang berhak merazia Café adalah satpol PP Kecamatan. Selain itu, alasan Kamingsun belum menutup Café dkarena dampaknya akan banyak pengangguran, sementara kelurahan belum punya solusi mengatasi masalah ini.
Namun fitnah kejam di sosial media beredar viral, Kamingsun dituduh mendukung prostitusi. Gubernur yang mendengar kabar itu langsung meminta Camat menutup Café-café tersebut dan memanggil Kamingsun ke pemda untuk dimintai keterangan. Akhirnya Gubernur memberi sanksi berupa teguran keras kepada Kamingsun.
Akibat penutupan itu, sudah dianalisa Kamingsun, timbul kerawanan sosial. Banyak pemuda yang nganggur dan menjadi preman serta sebagian nekat menjadi begal motor. Desa yang dulu aman kini semakin mencekam. Mang Kobar mengaku tidak bisa mengendalikan anak buahnya karena mereka hanya nyari makan. Lewat program pemberdayaan masyarakat Kamingsun berusaha merangkul puluhan pemuda itu namun hanya sebagian kecil yang tertarik.
Sementara itu, sebagai seorang lajang Kamingsun juga dilanda konflik asmara karena hubungannya dengan Maharani tidak mulus. Sementara itu Andi Oleng, anak Mang Kobar juga naksir dengan Maharani. Sikap mang Kobar dan anaknya memang bertolak belakang. Mang Kobar mendukung Kamingsun namun Andi oleng menentang, karena proyeknya pemberdayaan dengan bu Jujuk dihentikan.
Nah bagaimanakah kisah perjuangan Kamingsun mengubah masyarakat Tanah Kosong Jahiliyah menjadi masyarakat yang beradap, makmur dan relijius. Serta bagaimana hubungannya dengan Maharani yang mendapat tentangan keluarga dan orang ketiga.
Saksikan di Sitkom Kamingsum Lurah Idaman.


Karakterisasi
Kamingsun tahu di kelurahan itu semua aparat punya mainan sendiri dan kavling masing-masing.  Mang Dadang, Kasi Pemerintahan dan Ketertiban Umum menolak penutupan Kafe-kafe di Tanah Kosong, alasannya untuk menampung pengangguran. Namun ternyata ia menerima upeti tiap bulan dari pemilik café bersama pihak oknum kepolisian.
Bu Jujuk, Kasi Pemberdayaan Masyarakat sering meminta dana ke orang-orang yang dianggap mampu dan usaha-usaha yang ada termasuk dana CSR pengelola sampah terpadu untuk pemberdayaan masayarakat. Namun ia menganggap dirinya seperti amil pengumpul Zakat yang mendapat jatah 1/8 bagian. Bu Jujuk punya anak perempuan yang masih kuliah namanya si Oneng, yang naksir sama Kamingsun dan didukung sepenuhnya oleh ibunya.
Cak Kholil, Kasi Kesejahteraan Masyarakat adalah orang yang paling sosial karena tugasnya membagikan bantuan dana desa dan beras miskin serta BLT. Tapi dia selalu menyunat dana itu dengan alasan untuk operasional kelurahan.
Pakdhe Ranto, kasi Pelayanan Masyarakat ada di tempat yang paling basah, ia selalu memungut pungli baik pengurusan KTP, surat tanah, perjanjian jual beli , pungutan PBB  dan segala jenis pungutan kepada warga.
Yayuk, tenaga honorer yang penurut. Dia adalah keponakan dari Haji Dolalah. Yayuk yang lugu menjadi rebutan antara Gudel dan Bang Togar.
Yang paling besar kaplingannya sebenarnya Haji Dolalah karena berurusan dengan pengembang. Apalagi banyak lahan kosong, ia bekerjasama dengan pakdhe Ranto membidangi masalah yang super basah itu.
Sejak Kamingsun masuk, mereka mulai berhati-hati, apalagi sifat Kamingsun sejak jadi pegawai honorer termasuk jujur dab anti suap membuat mereka bermain kucing-kucingan. Dua orang staf yang loyal dengan lurah Kamingsun adalah Gudel, tukang ketik dan Bang Togar, hansip merangkap pesuruh kelurahan. 
Permasalah eksternal di kelurahan Tanha Kosong juga terbilang sangat rumit.
Mang Kobar, adalah pengusaha kafe terbesar yang punya banyak anak buah dan menjadi ketua asosiasi Café di Tanah Kosong. Dia selalu mengobarkan perang jika ada rencana penutupan café-Café itu. Setiap ada razia prostitusi sudah bocor duluan, sehingga sulit ditemukan indikasi prostitusi di café tersebut. Satpol PP kecamatan pun gentar, karena mang Kobar mempunyai anak buah yang nekat dan rata-rata pernah di penjara.
Junaedi, pimpinan preman se kelurahan. Anggotanya sering menarik pungli di pasar-pasar, jalan-jalan, pemakaman, pengelolaan sampah dan keramaian. Dia orang yang ditakuti kedua setelah Mang Kobar, sifatnya keras dan kasar membuat orang ciut nyalinya ketika berhadapan. Dia juga kepala suku kampung Kebon Kosong yang ditakuti. 
Lik Manto adalah adik dari pakdhe Ranto, orang yang paling dihormati di kampung pendatang Rawa Ompong. Sehari-hari menjadi pedagang beras dan merangkap sebagai ketua RW dan dewan kelurahan.  Orangnya santai dan tidak meledak-ledak, lebih suka mendamaikan daripada konflik. Anaknya seorang dokter umum yang baru lulus dan bekerja di Puskemas bernama Maharani, masih lajang dan suka menolong.
Abah Acung, adalah ulama di Tanah Kosong, ketua DKM Masjid dan pemilik kontrakan. Sebagai orang yang paling sepuh ia cukup disegani. Ia sering berteriak lantang agar café-café itu ditutup.  Mang Kobar adalah orang yang sering menghindar karena kerap dicermahinya. Ia adalah ayah dari haji Dolalah dan terpandang di masyarakat.
Nyi Sukestri, adalah bidan desa , termasuk orang kaya di kampung tersebut. Karena tidak ada saingan, dia isteri dari cak Kholil, yang menghalangi setiap ada bidan baru yang mau membuka praktek di desa. Satu-satunya saingan adalah Puskemes kecamatan yang berjarak 5 km dari keluarahan Tanah Kosong. Kehadiran Maharani membuat pasiennya berkurang, dia pun bermusuhan dengan Lik Manto. Akibatnya hubungan antara Cak Kholil dan Pakdhe Ranto kurang mesra.
Mbah Tonda, adalah pedagang bakso di kampung yang paling laris. Dia merupakan pakdhe dari Kamingsun. Anaknya bernama Penceng, adalah pemuda pengangguran yang suka iseng di kampung. Kebiasaan paling jelek Penceng dan temannya Gepeng suka mabuk. Biasanya kalau mau ngamen, si Penceng minum dulu biar pede katanya. 
Ustad Jamal, adalah ketua dewan kelurahan. Dialah yang selalu mendukung Kamingsun. Orangnya lurus dan tidak neko-neko. Dia punya anak gadis bernama Sarwani, yang ingin dijodohkan dengan Kamingsun. Sarwani sering digoda oleh Andi Oleng, anak mang Kobar yang menjadi ketua pemuda Tanah Kosong.

***

Senin, 03 April 2017

Ternyata Penghuni Surga bukan yang amalnya Banyak? Lalu seperti Apa, inilah cirinya?

Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,”Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga”. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini? Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu.

 “Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.” Ucapan Rasulullah SAW ini serta-merta membuat riuh para sahabat yang tengah berada di masjid. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan sang penghuni surga itu. 


Tak lama, para sahabat pun melihat seorang laki-laki Anshar dengan wajah basah. Air wudhu menetes dari janggutnya. Tangannya menjinjing sepasang sandal jepit. Tak ada yang spesial secara fisik.

Para sahabat pun bertanya-tanya alasan apa yang membuat laki-laki tersebut menjadi penghuni surga. Tentu saja itu derajat tinggi yang sangat diinginkan setiap Muslim, apalagi para sahabat Rasul. Mereka semua menginginkan jaminan surga.

Keesokan hari belum terjawab rasa penasaran para sahabat, Rasulullah kembali mengucapkan hal sama. “Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.” Mereka pun kembali riuh bertanya-tanya, siapa lagi yang dipastikan merasakan nikmat Allah yang kekal.

Namun, justru laki-laki dengan wajah basah wudhu dan membawa sandal itu lagi yang muncul. Para sahabat semakin bertanya-tanya, namun tak ada satu pun yang berani bertanya pada Rasulullah.

Hingga ketiga kalinya, Rasulullah mengucapkan hal yang sama. Namun, tetap saja yang muncul laki-laki tadi. Para sahabat pun yakin laki-laki itulah calon penghuni surga.

Tapi, tak satu pun sahabat yang mengetahui alasan di balik rahmat Allah memasukkan laki-laki itu dalam golongan yang selamat pada hari akhir.

Namun, mereka tetap merasa tak enak hati jika menanyakannya hal itu kepada Rasulullah. Tinggallah para sahabat terus dirundung keingintahuan. Salah satu sahabat yang amat penasaran, yakni Abdullah bin Amr bin Ash, memilih inisiatif untuk mencari tahu sendiri. Ia pun kemudian menyapa pria tersebut dan bermaksud meminta izin untuk menginap di rumahnya. Abdullah bermaksud tinggal di sana agar dapat mengetahui amalan si penghuni surga.

Si penghuni surga tersebut dengan senang hati menyambut Abdullah. “Tentu, silakan,” ujarnya gembira. Maka, tinggallah Ibnu Amr di rumah calon penghuni surga itu selama tiga hari.

Selama tinggal di sana, Abdullah mengamati setiap ibadah dan amalan yang dilakukan si calon penghuni surga. Hari pertama, Abdullah tak menemukan adanya amalan spesial dari laki-laki itu. Hari kedua, ibadahnya masih sama, tak ada yang istimewa. Hingga hari terakhir, Abdullah tak juga menemukan ibadah yang luar biasa dari si laki-laki yang berhasil meraih keutamaan surga tersebut.

Abdullah hanya melihat ibadah si laki-laki yang biasa,  hanya menjalankan ibadah wajib saja. Di sepertiga malam, pria itu tak pernah bangun shalat Tahajud. Meski Abdullah bin Amr selalu mendengar laki-laki itu berzikir dan bertakbir acap kali terjaga dari tidur, pria itu baru bangun saat waktu shalat subuh tiba.

Luput dari shalat malam, pria penghuni surga itu pun tak menjalankan puasa sunnah. Namun, Abdullah juga tak pernah mendengar pria itu berbicara, kecuali ucapan yang baik. Ketika izin pulang setelah menginap tiga

Kepada pria itu Abdullah berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuanku menginap di rumahmu adalah karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Aku bermaksud dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Tapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai penghuni surga?” tanyanya.

Laki-laki itu pun tersenyum dan menjawab ringan, “Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini.” Jawabannya itu tak memuaskan hati Abdullah ibn Amr.

Namun, ketika Abdullah melangkah keluar dari rumah, laki-laki tersebut memanggilnya. Ia berkata kepada Abdullah, “Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.”

Tak boleh iri dan dengki
Kisah diatas mengajarkan kepada kita, bahwa seseorang menjadi calon penghuni surga bukan karena ibadahnya yang banyak tapi karena hatinya bersih. Yakni hati yang suci dari sifat-sfat tercela seperti sombong, benci, iri, dengki dan tidak iklhas. Hati yang selalu dibersihkan dari setiap kotoran yang menempel dan hati yang selalu dijaga kejernihannya sehingga mudah untuk menerima kebaikan yag datang dari manapun.

Karena percuma, kalau ibadah yang banyak tapi dihatinya masih tersimpan sifat tercela. Sifat sombong, sering berprasangka buruk, iri , dengki dan hasut karena semua itu akan merusak amalan. Sifat sombong merusak amalan yang banyak karena cenderung tidak ikhlas beribadah kepada Alloh. Sifat iri dan dengki merusak amalan karena mendekati prasangka buruk atau suudhon yang di larang oleh agama. Dari sifat iri akan timbul kebencian sehingga bisa membuat perilaku yang tidak adil. Ketidakadilan inilah yang dimurkai Alloh Swt.

Penting sekali menjaga perasaan dan membersihkan hati kita dari sifat yang tercela. Caranya yakni dengan mengikhlaskan setiap permasalahan, memaafkan setiap ada yang berbuat salah meski ia tidak minta maaf dan meyakini bahwa semua yang terjadi sudah merupakan kehendak Alloh Swt. Dengan senantiasa menjaga hati dari sifat benci, iri dan dengki membuat hati kita bercahaya dan bisa memancar kedalam amalan atau ibadah sehingga lebih ikhlas dan tenang.

Stand Up Religi